Walaupun di tengah tekanan ekonomi tapi dirinya tidak hilang akal dan terus beradaptasi. Buktinya dari sisi pendapatan di masa pandemi ini, omzetnya sudah tertekan separuh jadi sekitar Rp50 jutaan per bulan. Sementara di masa sebelum pandemi omzet biasanya tembus Rp100 Jutaan.
Walaupun demikian dia masih optimistis kripik jamur masih memiliki potensi market yang bagus sekali. Dengan jumlah penduduk Indonesia, para pemainnya belum banyak di Indonesia. Namun dia menyarankan bagi para pemula yang ingin usaha kripik jamur sebaiknya jangan langsung jadi produsen yang memproduksi kripik jamur.
Karena dari pengalamannya, kemampuan berjualan jauh lebih penting dibanding memproduksi. Produk yang tidak bisa dijual jauh lebih besar resikonya. Karena itu dia menyarankan sebaiknya mulai dengan jadi reseller, lalu berkembang jadi agen, hingga distributor.
Dengan terus berproses dan naik kelas maka otomatis market juga akan ikut terbentuk. Apa keuntungannya? Tentunya bila ada produk baru akan lebih mudah menyesuaikan karena target marketnya jelas. Bila keduanya sudah cocok ya tinggal disodorkan ke konsumen. Jadinya produk baru lebih mudah diterima kalau pasar terbentuk.
Keuntungan lain jadi reseller adalah tidak membuat proses belajar pebisnis jadi tumpang tindih. Karena bisa-bisa pebisnis akan keteteran mengurus jualan sekaligus memperbaiki produk. Keduanya jelas butuh fokus yang berbeda loh.
Bagi yang berminat mulai bisnis kripik jamur dia memberikan gambaran modal awal cukup dengan alat penggorengan dan mesin pengering. Jadi modal awalnya bisa di kisaran Rp5 juta hingga Rp10 Juta. Sedangkan untuk bahan baku tergantung kebutuhan.
Namun bila memulai sebagai reseller, pebisnis bisa langsung berjualan tanpa modal dengan sistem dropship. Modalnya cukup hanya kuota dan kegigihan. Dalam hal margin untuk para penjual disarankan mengambil 25% dari HPP. Karena margin akan dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berbagai printilan kebutuhan lainnya. Mulai dari biaya marketing, gaji admin, hingga sewa tempat