JAKARTA - Budidaya kambing perah Peranakan Etawa (PE) di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai menunjukkan hasil.
Dalam waktu sekitar dua tahun, populasi ternak di Kelompok Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulya, Kalurahan Gombang, meningkat 52 persen dari 21 ekor menjadi 32 ekor.
Peningkatan populasi tersebut turut diikuti tambahan pendapatan bagi kelompok peternak sekitar Rp1,5 juta. Meski demikian, produksi susu kambing saat ini masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak kambing guna mempercepat pengembangbiakan sebelum dipasarkan sebagai produk komersial.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan mengatakan, Program Desa Berdaya Energi merupakan wujud komitmen perusahaan dalam membangun kemandirian masyarakat melalui pengembangan potensi lokal yang terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan.
"PLN EPI meyakini bahwa keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan energi, tetapi juga melalui pemberdayaan masyarakat yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," katanya dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Program Desa Berdaya Energi menjadi salah satu upaya untuk membangun ekosistem yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan melalui pengembangan peternakan terintegrasi dengan penanaman tanaman biomassa.
Menurut Mamit, budidaya kambing etawa tidak berhenti pada peningkatan populasi ternak, tetapi diarahkan untuk membangun rantai nilai yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Limbah peternakan dimanfaatkan menjadi pupuk organik, pupuk digunakan untuk membudidayakan tanaman biomassa seperti kaliandra dan indigofera, kemudian daun dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak sehingga membentuk siklus produksi yang efisien, bernilai ekonomi, dan ramah lingkungan. Serta susu kambing dimanfaatkan untuk bahan baku coklat dan penanggulangan stunting.