Saham Pemilik Tambang Nikel Raisa, BCL dan Syahrini Tembus ARA

Aditya Pratama, Jurnalis
Jum'at 09 Juli 2021 10:06 WIB
Saham NICL Tembus ARA (Foto: Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Harga saham PT PAM Mineral Tbk melesat pada pembukaan perdagangan Jumat (9/7/2021). Pergerakan saham dengan kode emiten NICL itu menembus batas auto reject atas (ARA).

Dilihat melalui RTI, saham NICL mengalami kenaikan sebesar Rp35 atau 35,00 persen ke Rp135 per lembar saham pada hari pertama penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia.

Frekuensi perdagangan saham NICL mencapai 12 kali dengan 231.600 lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp31,27 juta. Price Earning Ratio (PER) -92,73 dan Market Cap sebesar Rp1,30 triliun.

Baca Juga: Melantai di BEI, Pemilik Tambang Nikel Raisa-BCL Incar Peluang Bisnis Mobil Listrik 

Adapun, Perseroan melepas sejumlah 2 miliar saham kepada publik atau setara dengan 20,7 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan, dengan harga Rp100 per saham. Perseroan menunjuk PT Danatama Makmur Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi (Underwriter).

Dari aksi korporasi ini, Perseroan akan menerima dana segar sebesar Rp200 miliar, di mana dana yang diraih Perseroan dari IPO ini setelah dikurangi biaya emisi, utamanya sekitar Rp72 miliar akan dipergunakan untuk pengembangan usaha perseroan dan anak perusahaan, IBM, yakni sebesar 30 persen untuk eksplorasi penambahan cadangan bijih nikel di area blok kerja perseroan.

Blok kerja tersebut antara lain blok yang diberi nama BCL, Raisa, Kartini, Tiara, dan Syahrini dengan total luas sekitar 51 hektare yang berada di dalam area pertambangan dengan IUP atas nama perseroan di Morowali, dan sekitar 70 persen akan dipergunakan oleh Entitas Anak, PT Indrabakti Mustika (IBM), untuk program eksplorasi lanjutan pengeboran spasi detail (infill drilling) penambangan cadangan bijih nikel di area blok kerja Kolaka Cendana, Longori, Silae, Komia, Kuma, Kondole dengan total luas 183 hektare di Konawe Utara. Kedua pengembangan usaha itu direncanakan dimulai pada paruh kedua 2021.

Sementara itu, sisanya akan digunakan sebagai modal kerja (working capital) untuk operasional perseroan, anak perusahaan, IBM, yakni sebesar 72 persen untuk modal kerja untuk operasional Perseroan dan sebesar 28 persen untuk modal kerja untuk operasional Entitas Anak, IBM. Biaya operasional tersebut di antaranya seperti biaya kontraktor, biaya QAQC, biaya pengapalan, dan biaya operasional lainnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya