Pengembangan PLTS Atap di Indonesia Bisa Berhasil, Ini Catatannya

Antara, Jurnalis
Rabu 18 Agustus 2021 14:29 WIB
Pengembangan PLTS Atap (Foto: Antara)
Share :

JAKARTA - Kebijakan pengembangan secara masif pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap gedung atau rumah (rooftop photovoltaic power station) dinilai sangat bagus untuk menurunkan ketergantungan pada listrik berbahan bakar fosil.

Akan tetapi, berkaca pada pasar yang relatif berhasil mengembangkan teknologi ini, yaitu Uni Eropa, untuk menyukseskan inovasi yang baik ini di Indonesia maka harus memenuhi beberapa catatan.

Pertama, terkait permintaan dari rooftop PV atau PLTS atap, apakah kesediaan orang Indonesia menggunakan teknologi ini sudah tinggi atau belum.

Dosen ekonomi energi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satiyakti mengatakan, teknologi ini biasanya digunakan oleh rumah tangga atau konsumen yang memang memiliki literasi yang baik untuk menggunakan teknologi tersebut seperti literasi lingkungan akan green economy atau green investment (ekonomi hijau dan investasi hijau).

Di sisi lain, ada juga masyarakat yang tidak willingness to use (tidak ingin menggunakannya).

“Maka jawabannya yaitu economic incentives. Apakah benefit menggunakan teknologi bagi rumah tangga akan lebih banyak dibandingkan cost of investment and maintenance (biaya investasi dan pemeliharaan) dari penggunaan teknologi ini,” ujar Yayan seperti dilansir Antara, Jakarta, Rabu (18/8/2021).

Dia mencontohkan, ada vendor yang siap untuk instalasi, layanan purna jual untuk maintenance yang dapat diakses seperti menggunakan mobile phone pada saat ini. “Semua dapat diakses dengan mudah dan nilai ekonomi dari investasi ini mudah diakses dan dibeli dengan murah atau investasi yang efisien,” kata Yayan.

Kedua, terkait investasi yang efisien untuk roofsolar PV tidak mudah. Yayan mencontohkan, di beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Spanyol atau Italia, Levelised Cost of Electricity (LCOE) kurang lebih 20 sen euro/kWh, masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan LCOE di wilayah Eropa tengah dan timur seperti Hungaria, Bulgaria, Romania, dan Estonia yang hanya 5-10 sen euro/kWh pada 2017.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya