Disampaikannya, Malaysia dan Indonesia harus bersatu menghargai diri sendiri dan saling menghargai, sehingga dunia pun akan ikut menghargai Indonesia. Petani dan perusahaan harus bekerja bersama. Dia menjelaskan saat ini jumlah penduduk dunia terus bertambah, sehingga kebutuhan minyak nabati juga ikut meningkat. Untuk itu dibutuhkan komoditas yang bisa memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.
Rachmat menyebutkan sawit adalah komoditas penghasil minyak nabati yang proses produksinya lebih efisien, dari sisi penggunaan lahan, produktivitas dan dampak ke lingkungan, jika dibandingkan komoditas penghasil minyak nabati lain.
Sementara Pendiri dan CEO Nusantara Sawit Sejahtera (NSS), Teguh Patriawan mengatakan, sebagai perusahaan nasional yang bergerak di bisnis kelapa sawit pihaknya terus berupaya menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan (SDGs). Langkah ini dilakukan bukan hanya karena tuntutan konsumen.
Namun, kelangsungan dan masa depan perusahaan juga sangat ditentukan oleh kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat dan keadilan yang diterima oleh para tenaga kerja di perusahaan. Saat ini, NSS menyerap sekitar 2.700 orang karyawan.
Dia mengatakan, Nusantara Sawit Sejahtera saat ini sedang melakukan penanaman kebun sawit rakyat (plasma) di sekitar kebun perusahaan. Plasma dilakukan dengan menggunakan bibit unggul dan merekomendasikan penggunaan pupuk berimbang, tidak berlebihan untuk konservasi tanah.
”NSS mengelola limbah pabrik, sehingga bisa digunakan lagi ke tanaman untuk menjadi pupuk. Kami selalu coba menghemat dengan cara-cara yang betul dan memperhatikan kelestarian lingkungan,” terangnya.
Selain sudah terbukti menopang perekonomian nasional, Teguh mengatakan prospek industri kelapa sawit juga masih sangat menjanjikan. Menyusul diversifikasi penggunaan minyak sawit besar-besaran, tidak hanya untuk bahan pangan, tetapi juga untuk bahan bakar biodiesel.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)