Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harga TBS Sawit Anjlok di Tengah Penguatan Dolar AS, Amran: Ini Anomali

Tangguh Yudha , Jurnalis-Senin, 08 Juni 2026 |11:19 WIB
Harga TBS Sawit Anjlok di Tengah Penguatan Dolar AS, Amran: Ini Anomali
Mentan Amran (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyoroti turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan anomali karena terjadi di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

Amran mengatakan, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS seharusnya menjadi faktor pendorong kenaikan harga komoditas ekspor. Karena itu, ia mengaku heran kenapa fenomena ini terjadi.

"Ini ada anomali di saat ini harga harusnya naik, bukan turun. Kenapa? Karena nilai Dolar selisih 10%. Ya harus naik. Tidak ada alasan turun," ungkapnya dalam konferensi pers yang digelar di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan pada Senin (8/6/2026).

Menurutnya, pemerintah telah meminta penjelasan dari berbagai pemangku kepentingan industri sawit terkait penurunan harga tersebut. Namun, hingga kini belum ada alasan yang dinilai dapat menjelaskan fenomena tersebut secara memadai.

Amran menyebut dalam pertemuan yang melibatkan asosiasi, perusahaan, pengusaha, hingga eksportir sawit, seluruh pihak sepakat untuk mengembalikan harga TBS sesuai ketentuan yang berlaku di masing-masing daerah.

"Kita sepakat semua, tidak ada satupun yang menolak, ketua asosiasinya, perusahaannya hadir, pengusahanya hadir, eksportirnya hadir, semua sepakat harga kembali seperti semula," lanjutnya.

Ia menegaskan harga TBS harus kembali mengacu pada ketetapan yang telah ditetapkan pemerintah daerah melalui peraturan gubernur. Sebagai contoh, daerah yang sebelumnya menetapkan harga Rp3.200 per kilogram harus kembali ke level tersebut.

"Kalau Rp3.200 per kg harusnya tetap Rp3.200. Ada Rp3.600 kembali ke Rp3.600 berdasarkan wilayah. Tapi harus mengikuti pergub, peraturan gubernur. Harga yang dikeluarkan oleh gubernur," katanya.

Lebih lanjut, Amran menilai momentum saat ini seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian dan perkebunan. Ia mengungkapkan nilai ekspor pertanian pada tahun lalu meningkat hingga Rp167 triliun, sehingga kenaikan harga komoditas ekspor semestinya dapat memberikan manfaat yang lebih besar kepada petani.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement