JAKARTA - Kementerian Pertanian berfokus dan berupaya merealisasikan swasembada protein di Indonesia, termasuk di dalamnya peningkatan produksi susu dalam negeri. Hanya saja diakui bahwa untuk memenuhi kebutuhan susu di dalam negeri harus dicukupi dengan impor.
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Syamsul Ma'arif mengatakan, sejauh ini pemenuhan kebutuhan susu dalam negeri masih harus mengandalkan impor sekitar 80 – 85 %.
“Perlu diketahui, kita (pemerintah) terus mendorong bagaimana pengembangan industri persusuan di Indonesia. Kementerian Pertanian melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan berkomitmen untuk meningkatkan produksi sapi perah walaupun kita tahu (perkembangan) sapi pernah saat ini relatif stagnan dari tahun 2020. Namun (komitmen) ini tetap kita lakukan.”, ujar Syamsul, Kamis (10/3/2022).
Baca Juga: 80% Kebutuhan Susu Diimpor, Ini Penyebabnya
Beliau menyampaikan, dua cara pendekatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mendorong pengembangan persusuan di Indonesia, yaitu dengan pendekatan dari sisi konsumsi dan pendekatan dari sisi produksi. Pemerintah terus melakukan pendorongan dari sisi konsumsi.
“Harapan kita adalah setiap tahunnya (konsumsi per kapita) dapat naik sekitar 17% untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga,” ujarnya.
Dirinya berharap bahwa kualitas dapat terus ditingkatkan, begitu juga dengan nilai tambah dari setiap produk.
Baca Juga: Produksi Susu Sapi Nasional Meningkat Jadi 1,6 Juta Ton
Sementara itu, Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) wilayah Jawa Timur, Sulistiyanto menyampaikan, walaupun saat ini GKSI Jawa Timur menjadi produsen susu segar dengan volume produksi harian tertinggi yaitu 1.350 ton dibandingkan dengan Jawa Barat (550 ton) dan Jawa Tengah (200 ton), hal ini masih belum bisa memenuhi angka kebutuhan susu harian di Indonesia yang mencapai 11.000 ton per hari.
“Berharap bahwa target peningkatan populasi sapi perah sebesar 10% per tahun dapat terwujud, sehingga target peningkatan produksi susu sapi sebesar 15% per tahun juga dapat direalisasikan,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Hendrawan Soetanto menambahkan, pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam pemeliharaan sapi perah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti lahan pertanian sempit, bahan pakan yang umumnya merupakan hasil samping atau sisa pertanian, serta sebagian besar pakan konsentrat yang belum memiliki NPP.
Tata laksana pemberian pakan sapi perah di Indonesia juga pada umumnya masih kurang baik, termasuk dalam penentuan formulasinya. Menurutnya, proporsi protein, mineral, vitamin dan buffers dapat dicampur dalam proporsi seimbang dalam pakan pellet.
“Selain itu aktivitas management peternakan sapi perah harus dilakukan secara menyeluruh dari management lahan dan ternak muda, hingga nilai tambah susu,” ujarnya.
(Feby Novalius)