Saat ritel A PO 30 karton, barang yang dikirimkan sesuai dengan permintaan, tanpa adanya pembatasan.
"Ketika HET diberlakukan kita punya service level. Itu perbandingan antara purchasing order dengan delivery order. Jadi PO kita di masing-masing peritel sangat bervariasi. Ada yang hanya 15-16 persen atau bahkan ada yang 28 persen. Tapi ketika HET dicabut, ada beberapa anggota yang sudah melaporkan buka PO nya sekian karton tapi di kirimnya juga sama dengan buka PO-nya. Artinya service levelnya sudah 100 persen," terangnya.
BACA JUGA:Kelangkaan dan Mahalnya Minyak Goreng di Indonesia
"Jadi bisa dibayangkan perbedaannya itu ketika ada HET, jumlah barang yang masuk tidak ada yang diatas 50 persen dari PO. Sedangkan setelah HET dicabut, peritel sudah mendapat barang sesuai dengan PO-nya," sambungnya.
Berkaca dari pengalaman tersebut, Ketua Aprindo ini menyebut, bahwa disparitas harga menjadi patokan.
"Ketika disparitynya tinggi, jadi kurang pasok. Namun saat free market atau dibebaskan harga jualnya, jadi banjir pasok," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)