BALI - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memberikan penjelasan terkait kendala pelaku UMKM untuk bisa go digital. Menurutnya UMKM mempunyai kelemahan di product development atau perkembangan produk.
"Kebanyakan UMKM kelemahannya di product development karena mereka tidak punya budget (pembiayaan) untuk Riset and Development (R&D) atau penelitian dan pengembangannya," ujar dia dalam kunjungan ke Business Matching Pengadaan Produk Dalam Negeri dan UMKM 2022 di Nusa Dua, Bali, Kamis (24/3/2022).
Dia menyebut, Kemenkop UKM saat ini sudah kembangkan model bisnis dengan sektor swatsa atau pelaku usaha besar dan kampus. Misalnya Riset and Development (R&D) penelitian dan pengembangannya di Universitas dan sektor Swasta lalu komersialnya di UMKM.
BACA JUGA:Pengadaan Barang dan Jasa 40%, Menkop Teten: Lihat Keunggulan Produk UMKM
"Jadi ada pembagian kerja, seperti desain dan marketing di pelaku usaha besar dan Universitas, kemudian produksinya di UMKM. Ini konsep kemitran atau rantai pasok ini bisa memperkuat stuktur produksi kita," ungkapnya.
Dia juga menambahkan pelaku usaha yang sudah besar bisa bermitra dengan UMKM. Dan tidak lagi yang kecil atau UMKM ini bertarung dengan pelaku usaha yang besar.
"Jadi kami (Kemenkop UKM) sudah menetapkan kemitran. Di mana yang usaha besar dan kecil itu bergabung melalui rantai pasok. Dan tidak lagi istilah bapak asuh karena kurang efektif," tuturnya.