Pada awal April, Sri Lanka memulai pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk meminta bantuan keuangan.
Sebelum IMF menyelesaikan sebuah program untuk membantu Sri Lanka, negara tersebut membutuhkan dana 3-4 miliar dolar AS untuk pembiayaan sementara guna membantu membayar pengeluaran untuk kebutuhan penting.
Pemerintah Sri Lanka juga telah meminta tolong kepada beberapa negara dan organisasi multilateral untuk membantu pembiayaan negara itu sampai IMF memberikan bantuannya.
India telah membantu Sri Lanka dengan pemberian dana senilai 1,9 miliar dolar AS (sekitar Rp27,4 triliun), dan Kolombo sedang dalam pembicaraan dengan New Delhi untuk dana tambahan senilai 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp21,63 triliun) guna mendanai impor, termasuk impor bahan bakar.
Sri Lanka juga sedang bernegosiasi dengan China untuk mendapatkan bantuan dalam bentuk pinjaman sindikasi senilai hingga satu miliar dolar AS (sekitar Rp1,44 triliun).
Menteri Keuangan Sri Lanka Ali Sabry mengatakan Kolombo juga akan mencari bantuan dari Bank Pembangunan Asia (ADB).
Sri Lanka telah mengumumkan penangguhan beberapa pembayaran utang luar negeri pada awal April dan mengatakan akan mengalihkan cadangannya yang sedikit untuk mendanai impor barang-barang penting, seperti bahan bakar, gas untuk memasak, dan obat-obatan.
(Taufik Fajar)