Perseoran juga berusaha untuk menghubungan rute penerbangan domestik dari barat ke timur.
“Jadi ada dikusi yang mendalam untuk lebih memperbanyak rute ke timur yang kedua membangun jaringan di timur, untuk kemudian bisa mengakses ke banyak kota di Indonesia bagian timur, seperti Papua, maluku dan segala macam. Terakhir tentu saja destinasi yang dikembangkan oleh banyak kementerian, kita akan adjust sesuai dengan kemampuan kita dan tujuan profitability kita yakni destinasi wisata,”lanjutnya.
Sayangnya, dari sejumlah usaha itu ada Pengamat Penerbangan Chappy Hakim mengatakan, cara atau strategi yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan memiliki pola yang sama.
Di mana yang dia maksud adalah telah dilakukan berulang kali namun Garuda Indonesia tetap kesulitan.
“Garuda kalau diikuti, Garuda selalu begitu, kesulitan keuangan, langkah yang diambil, manajemen diganti, terus dikasih dana talangan, selalu begitu beberapa kali. Artinya apa? Artinya itu tidak menyelesaikan masalah, karena akar masalahnya tidak diindentifikasi,” cetusnya.
Baginya, elama ini pihak perseroan dan Kementerian BUMN selalu menyatakan sebab utama dari kesulitan keuangan Garuda Indonesia adalah adanya korupsi.
Dia menyayangkan hal tersebut tidak pernah diinvestigasi secara mendalam dan diselesaikan dengan baik.
Dia pun menyarankan pemerintah melakukan penyelidikan mendalam atas penyebab kesulitan keuangan perseroan itu.
“Jadi tidak pernah dilakukan investigasi kenapa sih ada kesulitan keuangan di Garuda? Kan tidak pernah tahu kita. Tapi tahu-tahu misalnya Emirsyah Satar dibilang korup, tapi itu belakangan tahunya,” terangnya.
“Nanti akan kesulitan keuangan lagi itu pasti, karena itu sudah terjadi seperti itu. jadi bagaimana? Ya harus diinvestigasi penyebab Garuda kesulitan keuangan itu apa? Kan tidak pernah diinvestigasi, Cuma dibilang karena korupsi, tapi itu kan karena-karena saja, tidak pernah diselidiki dengan benar, pergantian manajemen sudah berapa kali? Kenapa diganti? Kan harusnya ada sebabnya, nah sebabnya tidak pernah diangkat,” tambahnya,
(Zuhirna Wulan Dilla)