Dia pun menjelaskan sejak 25 abad yang lalu, foodpreneur tidak lepas dari kebutuhan perut, pangan dan otak.
Sedangkan di zaman modern, kuliner tidak sekedar pemenuhan makanan.
Pemilihan asupan makanan dapat menentukan kesehatan tubuh.
Di mana konsumen kini mementingkan rasa yang enak, namun masih nyaman di perut dan baik bagi kesehatan.
“Dalam mengembangkan foodpreneur harus mengutamakan terlebih dulu rasa enak di mulut. Berdasarkan penelitian, aspek sehat menjadi urutan kedua dan ketiga, yang penting enak. Jadi untuk memulai bisnis apapun di bidang pangan, yang utama adalah rasa enak,” jelasnya.
Dia menyarankan ntuk mengembangkan bisnis sebagai foodpreneur sendiri daripada dipekerjakan orang lain.
Karena bisnis dapat dikelola sendiri dan bisa memiliki sistem kerja sesuai pilihan diri.
Kini, tren sistem foodpreneur semi autopilot juga semakin berkembang.
Dia pun mengungkapkan kalau tren sistem foodpreneur semi autopilot juga semakin berkembang. Model bisnis ini menawarkan bisnis kuliner yang sudah tersedia online marketingnya dan dapat dilakukan sebagai pekerjaan sampingan.
isnis ini dapat dilakukan dengan hanya modal kecil sambil dapat bekerja sesuai bidang profesi.
Serta bisnis ini sangat cocok bagi generasi muda yang ingin mengembangkan usahanya di bidang pangan dengan modal kecil.
“Model bisnis ini dapat menghindari biaya sewa restoran yang tinggi, modal awal tinggi dan tidak perlu melayani konsumen di tempat,” jelasnya.
Dia juga yakin kalau ke depannya, permintaan konsumen terhadap makanan enak dan sehat akan semakin meningkat.
Potensi ini patut dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis kuliner, terutama di wilayah Pulau Jawa dan Bali, dimana tren gaya hidup sehat semakin meningkat.
“Konsumen semakin perhatian terhadap keamanan pangan dan kualitas makanan, sehingga pebisnis kuliner juga harus menjaga sustainability produknya,” pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)