“Pekerjaan konstruksi pabrik emas kami yang kedua di Palu berjalan cukup baik. Kami berharap pabrik tersebut dapat segera beroperasi di kuartal IV-2022 demi meningkatkan produksi emas BRMS,” ujarnya.
Tercatat tahun ini sampai 2024, perseroan menargetkan produksi emas akan mencapai 19.000, 26.000, dan 59.000 oz, didukung adanya tambahan kapasitas dari pabrik emas kedua di Palu. Agus menambahkan, selain tambahan cadangan di Blok Poboya, pekerjaan konstruksi pabrik emas BRMS yang kedua di Palu, dengan kapasitas 4.000 ton bijih per hari, juga berjalan cukup baik.
“Kami berharap pabrik tersebut dapat segera beroperasi di Kuartal keempat 2022 demi meningkatkan produksi emas BRMS,” katanya.
Sebagai informasi, bisnis BRMS didukung oleh sejumlah anak perusahaan seperti Bumi Resources Japan Company Limited, PT International Minerals Company LLC, Calipso Investment Pte. Ltd., PT Citra Palu Minerals, PT Multi Capital, Sahara Resources Pte, Ltd. dan Lemington Investment Pte. ltd. Mayoritas saham BRMS saat ini dimiliki oleh PT Bumi Resources Tbk dengan total tingkat kepemilikan sebesar 35,73%.
Di mana pada bisnis utama PT Panorama Timur Abadi adalah perdagangan dan pemasokan pelumas untuk industri pertambangan. Kemudian, pada pertengahan 2009, PT Panorama Timur Abadi diambil alih oleh Bumi Resources Tbk (BUMI) dan berganti nama menjadi PT Bumi Resources Minerals. Di kuartal pertama 2022, BRM mencatatkan laba bersih senilai USD1,9 juta atau tumbuh 14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu USD1,68 juta.
Lonjakan laba ini dikontribusi dari peningkatan produksi emas dan pendapatan perusahaan.
Serta pendapatan perusahaan juga melonjak 118% menjadi USD2,9 juta, dari sebelumnya USD1,36 juta.
Sedangkan anak usaha BRMS yakni PT Citra Palu Minerals mengukir rekor volume produksi emas dari sebelumnya 24 kilogram (kg) di kuartal I-2020 menjadi 41 kg di kuartal I-2022 atau naik 71%.
(Zuhirna Wulan Dilla)