JAKARTA – Ancaman resesi global 2023 disebut akan menyebabkan tingkat suku bunga naik.
Hal ini pun membuat banyak masyarakat yang mempertanyakan perihal investasi yang tepat.
Dalam menghadapi resesi ekonomi, menurut Perencana Keuangan Mike Rini Sutikno, yang harus diperhatikan adalah pengalokasian dana secara proporsional, bukan soal bentuk investasinya.
”Contohnya nih, masa iya untuk kebutuhan jangka panjang kita menggunakan reksa dana saham, tapi karena takut resesi jadi dicairkan, akibatnya ngga tercapai,” katanya kepada tim Okezone, Rabu (19/10/2022).
BACA JUGA:Ngeri! Sri Mulyani Ungkap 4 Negara Ini Terancam Resesi pada 2023
Saran Mike, mulai dari sekarang, masyarakat dapat mempersiapkan resesi global dengan berinvestasi emas.
”Karena jika terjadi resesi dan harga melonjak, kemungkinan harga jual emas akan lebih tinggi,” katanya.
Persepsi masyarakat juga banyak yang salah mengenai investasi.
Tidak semua investasi untuk jangka panjang, ada juga yang sifatnya mengamankan kecukupan dana tunai.
Jadi investasi harus dialokasikan secara proporsional.
Oleh karena itu juga, Mike memberi peringatan bagi masyarakat yang tidak memiliki dana nganggur, tetapi sanggup untuk berinvestasi secara rutin untuk menghindari kegiatan investasi spekulasi.
Mengenai kepanikan masyarakat terhadap nasib investasi, Mike menerangkan bahwa investasi tetap dapat dilakukan karena resesi tidak akan terjadi selamanya.
Ada juga beberapa resesi ekonomi yang menyebabkan kondisi ekonomi membaik.
”Memang dunia investasi akan tertekan. Sarannya tetap investasi yang konteksnya jangka panjang. Walaupun kemungkinan terjadi penurunan dalam waktu dekat, tapi dalam jangka panjang akan tetap stabil,” jelasnya.
Asalkan berinvestasi sesuai tujuan dan disiplin, hasil saham akan signifikan.
”Investasi harus sesuai dengan tujuan. Kalau investasi untuk jangka panjang dalam waktu 10 tahun misalnya, tidak masalah investasi dalam kondisi resesi, asal disiplin. Jadi kita juga dapat menikmati hasil saham yang signifikan nantinya,” lanjutnya.
Masyarakat diimbau untuk mempunyai dana tunai yang cukup.
Jadi tabungan, deposito, dan reksadana pasar uang cocok digunakan sebagai tambahan kebutuhan jangka pendek.
Masyarakat juga harus memiliki kesadaran akan pentingnya memiliki dana darurat, paling tidak sebesar 6-12 kali dari gaji/pengeluaran.
Dia menambahkan kalau kira-kira tidak cukup, sebisa mungkin ditambah.
(Zuhirna Wulan Dilla)