"Ini menjadi penting, di tengah ekspor yang mulai melambat ada yang menggantikan (permintaan domestik, Red). Jadi dengan itu keyakinan kami dari Bank Indonesia bahwa ekonomi kita di tahun depan tumbuh cukup baik, kami optimistis meskipun mungkin tetap di bawah perkiraan awal karena memang secara global mengalami penurunan," kata Dody.
Di sektor pariwisata yang mulai pulih, Deputi Gubernur Bank Indonesia itu juga berharap sisi konsumsi wisatawan khususnya wisatawan mancanegara tak terdampak atas resesi global, kecuali jika pandemi kembali mengguncang dunia serta terjadi pembatasan mobilitas.
"Tapi sekarang pertama kita harus sadar bahwa seandainya turis domestik menggantikan turis asing, itu tetap akan memberikan sumbangan nilai tambah bagi perekonomian di daerah, ya tentunya tetap harapannya turis asing, tapi kalau turis Indonesia bisa kita dorong, akan ada nilai tambah," ujarnya.
Selain berpacu pada dukungan permintaan domestik, Dody menyampaikan bahwa pihaknya juga merespon kondisi ekonomi, yaitu tingginya ekspetasi inflasi menjadi sebesar 3,31 persen melalui kebijakan menaikkan suku bunga.
"Berdasarkan perkembangan tersebut, baru saja kemarin Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga kebijakan (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen," ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa kebijakan ini adalah langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran di paruh pertama 2023.
Kebijakan ini disebut refleksi dari komitmen Bank Indonesia mengarahkan bauran kebijakan demi menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi.
"Kebijakan moneter Bank Indonesia kami arahkan untuk menjaga stabilitas (pro stability), sedangkan empat kebijakan lainnya yaitu makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, serta ekonomi keuangan hijau dan inklusif, diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional," kata Dody.
(Taufik Fajar)