Mereka bersepakat membuat proposal, lalu menyebarkannya ke lebih dari 100 perusahaan swasta, kementerian, institusi olahraga dan BUMN.
Di mana dari ratusan proposal yang disebarkan ini, kebanyakan ditolak, tak dijawab atau berakhir dengan cuma balasan email bilang terima kasih. Hanya tiga perusahaan yang merespons.
Sampai akhirnya sebuah BUMN membantu biaya tiket pesawat dan tambahan akomodasi penginapan.
Mereka juga mendapat produk perjalanan dari sebuah perusahaan outdoor serta bantuan dari sebuah platform media sosial berbagi video.
"Jadi, aku punya pengalaman yang aku nggak bisa beli dengan uang tabunganku yang semuanya terkuras. Kesempatan aku merasakan berada di mega event seperti ini tak akan terbeli. (Juga) bertemu teman-teman baru," kata Nanda yang bertugas di Stadion Khalifa.
Ada lagi, Sofia Rahman yang berasal dari Solo, Jawa Tengah.
Sofia Rahman, mahasiswa yang sedang menanti masa wisudanya.
"Ini seperti mimpi yang bisa aku peluk," kata perempuan 22 tahun.
Dia mendarat ke ke Qatar karena ada privilege orang tua yang mampu buat bantu.
Karena dia mengaku ketinggalan pesawat karena nama di paspor berbeda dengan Kartu Hayya. kartu visa Qatar.
Tiket yang sudah dibeli seharga Rp9 juta akhirnya hangus begitu saja.
"Untung ada orang baik yang mau mengganti tiketnya," jelasnya.