JAKARTA - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) kantongi laba sebesar Rp1,82 triliun pada tahun 2022 atau tumbuh 2,01% dibanding tahun 2021 yang tercatat sebesar Rp1,788 triliun.
Dikutip Harian Neraca, berkat kenaikan itu mendongkrak laba per saham dasar ke level Rp529,44 per lembar, sedangkan akhir tahun 2021 berada di level Rp486,79.
BACA JUGA:
Sementara pendapatan bersih naik 10,5% menjadi Rp16,328 triliun yang ditopang peningkatan penjualan semen kepada pihak ketiga sebesar 9,8% menjadi Rp14,758 triliun. Lalu penjualan beton siap pakai kepada pihak ketiga terkerek 20,9% menjadi Rp1,293 triliun. Demikian juga dengan penjualan semen kepada pihak berelasi terangkat 14,4% menjadi Rp246,7 miliar.
Walau beban pokok pendapatan membengkak 15,9% menjadi Rp11,185 triliun. Tapi laba kotor tetap terungkit 0,33% menjadi Rp5,143 triliun. Kemudian total kewajiban bertambah 11,3% menjadi Rp6,139 triliun.
BACA JUGA:
Pada sisi lain, jumlah ekuitas menyusut 5,3% menjadi Rp19,566 triliun. Tahun ini, perseroan menyediakan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp1,2 triliun. Angka tersebut tak berbeda jauh dari capex Rp1 triliun yang dianggarkan pada 2022.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan INTP, Antonius Marcos sempat menjelaskan bawha sebagian besar dana capex akan digunakan untuk pembayaran sewa pabrik semen di Maros.
Kemudian belanja modal juga akan digunakan untuk penambahan fasilitas penerimaan refused derived fuel (RDF) di pabrik Citeureup. Selain itu, dana capex juga akan digunakan untuk penambahan penyimpanan bahan bakar alternatif atau alternative fuel storage, dan pekerjaan untuk pengembangan beberapa fasilitas pabrik.
“Terkait capex tahun ini kami menganggarkan kurang lebih sama dengan tahun lalu yaitu Rp1,2 trilliun,” ujar Antonius.
Dia juga menyebut INTP akan melakukan efisiensi biaya, dan melakukan pengembangan serta peningkatan pemakaian material alternatif dan bahan bakar alternatif.
"Serta terus berupaya untuk merealisasikan program EBT di pabrik pabrik kami,” tambahnya.
INTP juga berencana melakukan ekspansi ke Indonesia Timur dan pasar ekspor seiring adanya kerjasama dengan PT Semen Bosowa Maros, dan terminal semen lainnya. Selain itu, penggilingan Banyuwangi ditargetkan dapat menembus pasar lebih luas seperti ke Jawa Timur dan Bali. Produsen Semen Tiga Roda tersebut akan fokus dalam memperluas strategi keberlanjutan, saluran distribusi, dan proses digital maupun otomasi.
Kini INTP juga akan mencari peluang sinergi untuk meningkatkan pangsa pasar. INTP hanya memasang target pendapatan sebesar 2% seiring adanya potensi resesi global di 2023.
Adapun INTP memasang target pertumbuhan sekitar 4% sampai 5% untuk 2022. Pemangkasan target pertumbuhan karena melihat resesi global akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia.
(Zuhirna Wulan Dilla)