JAKARTA – PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) menerbitkan surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) atau global bond hingga USD500 juta setara Rp7,45 triliun. Global bond diterbitkan melalui anak usahanya PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) untuk pertebal likuiditas.
Melansir Harian Neraca, Senin (22/5/2023), penerbitan global bond ini akan terlebih dahulu melewati persetujuan pemegang saham lewat rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Kamis, 8 Juni 2023. Nantinya, surat utang akan ditawarkan kepada investor-investor di luar wilayah Republik Indonesia dengan jumlah maksimum USD500 juta.
Nilai transaksi ini melebihi 50% dari total ekuitas perseroan, dengan demikian merupakan transaksi material. Berdasarkan prospektus DOID, tingkat suku bunga yang akan dibayarkan kepada pemegang surat utang dan periode pembayaran bunga masih dalam proses negosiasi dengan investor awal.
Rangkaian informasi ini akan diumumkan kemudian melalui prospektus tambahan. Surat utang direncanakan akan dijamin tanpa syarat dengan jaminan perusahaan oleh anak perusahaan penjamin. Nantinya, hasil penerbitan global bond akan diserap BUMA untuk pembayaran baik seluruh atau sebagian kewajiban utang yang tercatat dalam laporan keuangan per 31 Desember 2022.
Selain itu, emisi global bond juga akan dialokasikan untuk pembiayaan tindakan akuisisi dan sisanya apabila ada akan digunakan untuk keperluan umum DOID. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2022, BUMA memiliki jumlah utang sebesar USD947,32 juta.
Transaksi penerbitan global bond akan memperpanjang profil jatuh tempo utang BUMA karena dana yang diterima dari penawaran ini akan dipergunakan untuk melunasi seluruh maupun sebagian utang utang, serta untuk meningkatkan likuiditas BUMA.
Pada Maret 2023, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menyematkan peringkat BB- dengan outlook stabil kepada BUMA. Fitch juga memberikan peringkat yang sama terhadap surat utang USD400 juta yang berbunga 7,75% dan jatuh tempo pada 2026 Penegasan peringkat tersebut mencerminkan ekspektasi Fitch terhadap BUMA yang mempertahankan volume pengupasan lapisan penutup yang stabil selama dua tahun ke depan, dan setelah itu dapat mengganti sebagian besar volume yang hilang setelah kontrak jatuh tempo pada 2025.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)