JAKARTA - Dalam dunia kerja yang semakin ketat, pekerja dituntut untuk selalu meningkatkan produktivitas dan kemampuannya. Pekerja seolah dituntut membuat semua orang agar bertahan demi mendapatkan penghasilan untuk menghidupi diri dan keluarganya.
Dampaknya semakin banyak pekerja yang kompetitif menjadi workaholic atau kecanduan bekerja yang menghabiskan seluruh waktunya demi bekerja untuk perusahaan. Hal ini tidak bagus bagi kesehatan, baik fisik maupun mental. Namun, perbedaan antara keduanya sangat penting, karena melibatkan keseimbangan bagi kualitas hidup.
Demikian, masih banyak juga para pekerja yang menyisihkan waktu untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaannya. Di samping itu juga dia tetap bekerja keras dengan baik dan giat. Pekerja seperti itu adalah tipe pekerja keras.
Ditulis akun Instagram kementerian Ketenagakerjaan @kemnaker, Jakarta, Rabu (19/7/2023), berikut ciri-ciri dan perbedaan antara pekerja yang workaholic vs pekerja cerdas.
1.Ambisius dan Realistis
Seorang pekerja workaholic biasanya merasa terpaksa untuk bekerja. tidak pernah menikmati sebuah pekerjaannya dan biasanya bekerja tidak sesuai passion atau kemampuannya. Di sisi lain, workaholic juga terlalu serius dalam bekerja tanpa memikirkan apapun selain pekerjaannya, bahkan dia menghabiskan waktu luangnya dengan tetap bekerja atau memikirkan kerjaan. Tipe ini cendrung ambisius untuk mencapai target. Jika targetnya tidak tercapai, dia bisa stres dan akan menyalahkan diri sendiri bahkan orang di sekitar kerjanya.
Pekerja cerdas, memiliki kemampuan untuk memprioritaskan tugas-tugas yang penting dan mengatur waktu dengan baik. Pekerja cerdas tidak hanya fokus pada kuantitas kerja yang mereka lakukan, tetapi juga kualitasnya. Mereka mengenali bahwa waktu yang dihabiskan dengan cerdas dan tujuan yang jelas akan memberikan hasil yang lebih baik.