Pertama, konsumsi rumah tangga yang tumbuh tinggi hingga 5,23% (year-on-year/yoy). Perolehan tersebut merupakan salah satu wujud keberhasilan pemerintah dalam menurunkan inflasi yang akhirnya membuat daya beli masyarakat dan kepercayaan konsumen tetap terjaga.
Selain itu, Lebaran Idul Fitri dan Tunjangan Hari Raya (THR) juga turut mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
Berikutnya, investasi juga menunjukkan penguatan, yang tercermin pada pertumbuhan 4,63% year on year (yoy).
Belanja pemerintah dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) juga melonjak tajam hingga mencapai 10,62% yoy. Menkeu optimistis kinerja tersebut berkontribusi dalam mendorong kegiatan ekonomi.
Terkait ekspor yang terkontraksi 2,75%, Menkeu mengatakan hal itu dipengaruhi oleh pelemahan ekonomi global. Sementara impor yang minus 3,08% disebabkan oleh jumlah hari kerja.
Pertumbuhan secara spasial atau daerah juga merata. Pulau Jawa mencatatkan pertumbuhan 5,18% yoy, Sumatera 4,90% yoy, Kalimantan 5,56%, Sulawesi 6,64%, Bali dan Nusa Tenggara 3,01%, dan Papua 6,35%.
Bendahara Negara menyebut meratanya pertumbuhan ekonomi secara spasial ditopang oleh berbagai pembangunan infrastruktur yang mendorong pemerataan pembangunan seluruh negeri.
Atas berbagai capaian tersebut, Sri Mulyani menekankan pentingnya upaya menjaga momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu dengan fokus menciptakan lapangan kerja, menurunkan pengangguran, memberantas kemiskinan, stunting, mengurangi kesenjangan, serta menciptakan kesejahteraan yang adil dan merata.
“APBN #uangkita sehat bekerja keras melindungi rakyat dan mendukung ekonomi yang tumbuh berkualitas, merata, serta berkelanjutan,” pungkasnya.
(Taufik Fajar)