Penobatan Sultan Syarif Kasim II menimbulkan kekhawatiran bagi Kolonial Belanda karena pewaris kerajaan yang berpendidikan dan progresif, hingga akhirnya Hindia Belanda mulai mengecilkan arti dan fungsi Dewan Kerajaan dan kemudian Dewan Kerajaan dihapus oleh pemerintahan Hindia Belanda.
Saat itu, Hindia Belanda banyak ikut campur dalam susunan kerajaan sampai akhirnya Kerajaan Siak terbagi menjadi 5 distrik yakni Distrik Siak, Distrik Selatpanjang, Distrik Bagansiapi-api, Distrik Bukit Batu dan Distrik Pekanbaru.
Karena hal itu, Sultan Syarif Kasim semakin menentang Belanda dan mulai membangun kekuatan fisik. Dia membangun kekuatan militer yang berawal dari barisan kehormatan pemuda-pemuda dan dilatih untuk membangkitkan semangat perlawanan, mempertahankan diri, serta membela nasib rakyat.
Tidak berhenti disitu, dia juga mendirikan Sekolah Agama Islam yang diberi nama Madrasah Taufiqiyah Al-Hasyimiah pada 1917 dengan harta yang dimilikinya. Sultan dan Permaisuri Tengku Agung pun mendirikan sekolah untuk kaum wanita yang diberi nama Latifah School pada 1926.
Sekolah-sekolah itu tidak hanya sebagai tempat menimba pengetahuan agama Islam, tapi juga untuk menanamkan semangat kebangsaan, harga diri dan jiwa patriotisme.
Berganti zaman penjajahan Jepang, secara de yure Sultan tidak memegang kekuasaan lagi ketika pemerintah Jepang meminta Siak untuk mengirimkan tenaga Romusha. Namun, Sultan tetap bertanggung jawab terhadap kerajaan dan rakyatnya sehingga menolak pengiriman tenaga Romusha yang diminta oleh Jepang.
Pada tahun 1945, saat mendengar kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II segera mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dengan semangat pergerakan nasional.
Saat itu juga, dia menyatakan akan mendukung perjuangan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta menyumbangkan harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden kepada Pemerintah Republik Indonesia atau setara Rp1,47 triliun sesuai dengan komitmennya dalam mengintegrasikan diri bagi Republik Indonesia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)