Pos yang mayoritas dikontribusikan dari gaji karyawan ini merupakan beban terbesar URBN, di samping biaya keuangan yang mencapai Rp17,7 miliar.
Alhasil, perseroan harus mengalami rugi sebelum pajak senilai Rp36,12 miliar.
Bagaimana kondisi neraca dan arus kas?
Kerugian yang dialami tampak masih mampu terjaga, menyusul kecukupan saldo laba. Dari jumlah retained earnings akhir 2022 sebesar Rp159,56 miliar, saldo laba yang tersedia mencapai Rp123,5 miliar pada akhir Juni 2023.
Ini mendorong nilai ekuitas URBN terpangkas menjadi Rp1,98 triliun, dari akhir 2022 sebesar Rp2,02 triliun.
Nilai aset URBN masih bertahan di level Rp4,22 triliun, dengan kewajiban utang (liabilitas) sebesar Rp2,23 triliun.
Kas yang digenggam pada tengah tahun ini mencapai Rp57,5 miliar, turun sebesar Rp160 miliar akibat serangkaian kenaikan pengeluaran baik operasional, investasi, maupun pendanaan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)