JAKARTA – Kerugian ekonomi Israel akibat operasi badai Al Aqsa akan diulas dalam artikel ini.
Israel pada 7 Oktober 2023 lalu diserang oleh pasukan Hamas dengan serangan udara roket.
BACA JUGA:
Rentetan roket ditembakkan dari Jalur Gaza menuju Israel.
Pada saat penyerangan udara seluruh masyarakat di wilayah Israel bagian tengah dan selatan mendengar jelas sekali gemuruh sirine.
BACA JUGA:
Para tentara Israel langsung sigap untuk meminta masyarakat pergi ke tempat perlindungan bom.
Hamas mengklaim bahwa pasukannya telah menembakkan lebih dari 5.000 roket ke wilayah Israel.
Dari serangan tersebut sudah banyak sekali korban jiwa, korban luka-luka, dan bangunan yang hancur.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memberikan laporan terbaru terkait perang ini.
Lebih dari 700 warga Israel yang menjadi korban jiwa dan 2.150 warga yang terluka.
BACA JUGA:
Selain itu, kerugian ekonomi Israel akibat perang dengan Hamas juga sangat banyak.
Pasalnya setelah serangan udara tersebut Bursa saham dan obligasi Israel menjadi anjlok.
Pusat perbelanjaan dan bisnis lainnya terpaksa harus ditutup demi keamanan.
Bangunan sekolah dan rumah sakit ikut hancur akibat hantaman roket Hamas.
Bahkan tempat latihan militer Israel dan alat tempurnya ikut hancur.
Dilansir VOA, Senin (9/10/2023) di pasar valuta asing kemarin, mata uang Israel shekel sudah berada pada level terendahnya pada tahun ini seiring dengan rencana pemerintah yang sangat kontroversial untuk merombak sistem peradilan.
Indeks saham utama Tel Aviv, TA-125 dan TA-35, turun hampir 7%, dan saham-saham perbankan turun sebanyak 9% dengan omzet sebesar 2,2 miliar shekel atau sekitar USD573 juta.
Harga obligasi pemerintah juga turun sebanyak 3% sebagai respons awal pasar terhadap serangan paling mematikan terhadap Israel dalam beberapa dekade.
Dari kerugian ekonomi yang sangat besar, Israel menjanjikan untuk melakukan penyerangan balasan yang lebih hebat dan terus menerus ke wilayah Gaza.
(Zuhirna Wulan Dilla)