Wall Street Tertekan, Investor Cermati Perlambatan Ekonomi AS

Anggie Ariesta, Jurnalis
Kamis 08 Januari 2026 07:37 WIB
Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah. (Foto: Okezone.com/Freepik)
Share :

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat. Indeks S&P 500 tergelincir dari rekor tertingginya, sementara penguatan saham Alphabet belum mampu membendung aksi ambil untung (profit taking) setelah reli kuat pada sesi sebelumnya.

Mengutip Investing.com, Kamis (8/1/2026), Dow Jones Industrial Average turun 0,9% ke level 48.996. S&P 500 terkoreksi 0,3% ke posisi 6.920, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi intraday di 6.965,69. Adapun Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi justru menguat tipis 0,2% ke level 23.584.

Fokus investor kini tertuju pada rilis data ekonomi terbaru AS yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Laporan ADP mencatat, perusahaan swasta di AS hanya menambah 41.000 lapangan kerja pada Desember 2025, lebih rendah dari perkiraan ekonom yang mencapai 49.000.

Selain itu, jumlah lowongan pekerjaan (job openings) turun lebih dalam dari ekspektasi menjadi 7,146 juta, dibandingkan proyeksi 7,61 juta. Data tersebut memperkuat indikasi melunaknya permintaan tenaga kerja. Kondisi ini dinilai krusial bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan. Sepanjang 2025, bank sentral AS itu tercatat beberapa kali memangkas suku bunga demi mendukung pemulihan sektor ketenagakerjaan.

Dari sektor korporasi, investor menantikan laporan keuangan produsen minuman beralkohol Constellation Brands. Perusahaan tersebut menghadapi tantangan berupa melemahnya permintaan serta tingginya tarif impor kaleng aluminium yang menekan margin laba. Volume pengiriman bir diperkirakan turun 2,91% pada kuartal ketiga tahun fiskal berjalan.

 

Sementara itu, harga minyak dunia melemah menyusul data persediaan yang bervariasi. Meski stok minyak mentah tercatat menurun, peningkatan stok produk olahan seperti bensin yang lebih besar dari perkiraan memicu kekhawatiran kelebihan pasokan (oversupply).

Dari ranah diplomatik, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Venezuela telah mencapai kesepakatan ekspor minyak mentah ke Washington dengan nilai hingga 2 miliar dolar AS.

Trump sebelumnya menuntut akses penuh bagi perusahaan minyak AS ke industri migas Venezuela. Dalam unggahan di media sosial, ia menyebut Venezuela akan menyerahkan sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi kepada AS.

Sebagai informasi, jutaan barel minyak tersebut tertahan akibat blokade yang diberlakukan Trump terhadap negara Amerika Latin itu pada Desember lalu. Trump juga mengisyaratkan potensi intervensi militer apabila persyaratan akses industri tersebut tidak dipenuhi.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya