Laode memastikan proyek tersebut telah menyelesaikan seluruh tahapan utama dan saat ini hanya menunggu peresmian secara formal. Peresmian ditargetkan berlangsung pada Januari 2026.
"Menunggu peresmian saja. Insyaallah di bulan Januari ini," katanya.
RDMP Balikpapan dinilai akan menjadi tulang punggung Indonesia dalam upaya melepaskan ketergantungan pada impor solar.
Dengan tambahan kapasitas kilang, pemerintah optimistis kebutuhan solar nasional dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Adapun untuk masa transisi, Laode menjelaskan bahwa hingga Februari–Maret 2026, pasokan solar masih akan menggunakan kuota impor carry-over dari tahun 2025.
Produksi dari RDMP Balikpapan baru akan dimanfaatkan secara optimal mulai April 2026, seiring dengan penyiapan stok dan infrastruktur distribusi.
"Sampai Februari–Maret kita masih pakai kuota 2025. April baru kita gunakan. Pertamina perlu menyiapkan stok, pelabuhan, dan mekanisme pengambilan oleh badan usaha swasta. Kalau semua sudah siap, baru kita laksanakan," pungkasnya.
(Taufik Fajar)