Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah masih memantau perkembangan dan dampaknya terhadap harga minyak dunia imbas ditangkapnya Maduro oleh AS. Dia menyebutkan, hingga saat ini belum ada gejolak signifikan yang memengaruhi stabilitas harga minyak global.
“Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar 63 dolar per barrel,” kata Airlangga kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).
Airlangga menjelaskan pemerintah belum menyiapkan langkah antisipatif khusus selama situasi masih relatif stabil. Ia menyebut pemerintah memilih bersikap menunggu perkembangan lebih lanjut.
Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, menilai ketegangan yang tengah terjadi di Venezuela dengan Amerika Serikat belum memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mendorong kenaikan harga minyak dunia, baik dalam jangka pendek maupun menengah.
Fabby menjelaskan, faktor utama penentu harga minyak global adalah keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Dalam konteks Venezuela, gangguan pasokan yang mungkin terjadi dinilai terlalu kecil dibandingkan kondisi pasar minyak global saat ini.
"Produksi minyak Venezuela hanya sekitar 1 juta barel per hari, atau sekitar 1 persen dari produksi minyak dunia. Sementara itu, pasar minyak global masih mengalami surplus sekitar 3 juta barel per hari," ujarnya saat dihubungi.
Dengan kondisi tersebut, menurut Fabby, kalaupun nanti semisal konflik berujung pada pembatasan ekspor atau penurunan produksi minyak Venezuela, dampaknya terhadap harga minyak global akan sangat terbatas.
"Kalau pasokan turun 1 juta barel per hari tapi masih ada surplus 3 juta barel, secara teori harga tidak akan terdorong naik signifikan," jelasnya.
kenaikan harga minyak biasanya terjadi apabila gangguan pasokan berasal dari negara produsen besar dengan volume produksi yang dominan. Dalam kasus Venezuela, penurunan produksi tidak cukup besar untuk mengubah struktur pasar.
Fabby juga menilai sentimen risiko geopolitik memang bisa memicu volatilitas jangka pendek di pasar minyak. Namun, kenaikan harga akibat sentimen tersebut cenderung bersifat sementara dan akan kembali terkoreksi mengikuti fundamental pasar.
"Pasar minyak itu cepat merespons isu geopolitik, tapi selama fundamentalnya surplus, kenaikannya biasanya tidak bertahan lama," katanya.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, kondisi harga minyak yang relatif stabil atau cenderung rendah dinilai lebih menguntungkan. Namun demikian, Fabby mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap impor tetap menjadi risiko utama, sehingga strategi penguatan produksi dalam negeri dan pengendalian konsumsi BBM tetap harus menjadi prioritas pemerintah.
(Dani Jumadil Akhir)