JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu produsen utama berbagai komoditas tambang dunia, mulai dari batu bara, nikel, tembaga, hingga timah. Namun, besarnya produksi nasional tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan Indonesia dalam mengendalikan harga komoditas global.
Menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, salah satu faktor utama yang dinilai menghambat adalah praktik penyelundupan.
"Pengaruh harga ini dari Indonesia, saya masih meyakini. Kenapa? Karena penyelundupan yang ada di Malaysia dan Singapura otomatis sekarang sudah tidak ada sama sekali. Market gelap untuk timah ini praktis sudah berakhir dengan adanya kondisi saat ini," ujarnya di Jakarta, Sabtu (28/1/2026).
Untuk batu bara, Asia menyumbang sekitar 74% dari total produksi dan konsumsi dunia. Sementara itu, Eropa dan Amerika tidak lagi menjadi pasar dengan pertumbuhan signifikan. Dari total perdagangan batu bara dunia yang mencapai sekitar 1,5 miliar ton, Indonesia menyumbang lebih dari 500 juta ton, atau di atas 30%, bahkan mendekati 40% pangsa perdagangan global.
Meski demikian, dominasi tersebut belum cukup kuat untuk membuat Indonesia sepenuhnya mampu mengintervensi harga batu bara dunia.
Hal serupa juga terjadi pada komoditas tembaga. Pangsa produksi Indonesia hanya sekitar 4% dari total produksi dunia. Namun, gejolak harga global sempat terjadi ketika operasional tambang besar seperti Freeport mengalami gangguan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar dan gangguan pasokan dari satu produsen besar saja dapat memicu volatilitas harga, meskipun kontribusi volumenya tidak dominan.
Sementara itu, posisi Indonesia jauh lebih kuat di sektor nikel. Dari total kebutuhan nikel dunia sekitar 3,2–3,4 juta ton per tahun, produksi Indonesia mencapai 2,2 juta ton atau sekitar 65% dari pasokan global. Dengan porsi sebesar itu, Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok industri kendaraan listrik dan baja tahan karat dunia.
Namun, pada komoditas timah, meski produksi Indonesia relatif lebih kecil, dampaknya terhadap harga global tetap signifikan. Produksi nasional timah hanya sekitar 50.000 ton per tahun, tetapi pergerakan harga dunia dinilai sangat dipengaruhi oleh pasokan dari Indonesia.
Harga timah dunia yang sebelumnya berada di kisaran USD33.000 per metrik ton melonjak hingga menembus USD51.000 per metrik ton. Kenaikan ini diyakini tidak lepas dari berhentinya aktivitas pasar gelap timah yang sebelumnya terjadi melalui jalur penyelundupan ke Malaysia dan Singapura.