JAKARTA – Setelah resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, Juda Agung memulai hari pertamanya sebagai Wakil Menteri Keuangan dengan agenda perkenalan di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis (5/2/2026).
Dalam sambutannya, mantan petinggi Bank Indonesia ini menekankan pentingnya penguatan koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter sebagai mandat utama dari Kepala Negara.
Penyambutan yang digelar di Lobi Gedung Juanda I ini menandai transisi Juda dari "Thamrin" (Bank Indonesia) ke "Lapangan Banteng" (Kementerian Keuangan). Meski berpindah instansi, Juda mengaku tidak merasa asing dengan lingkungan barunya.
"Tentu saja, pindah dari Thamrin ke Lapang Bateng, masih sesuatu yang baru bagi saya. Tetapi sebenarnya, kalau melihat wajah-wajah eselon 1 dan eselon 2 ini, wajah-wajah familiar bagi saya ya," ungkap Juda di hadapan awak media.
Juda menjelaskan bahwa pengalamannya selama bertahun-tahun berkoordinasi dalam Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi modal kuat untuk mempererat hubungan antara kebijakan moneter yang dijalankan Bank Indonesia dengan kebijakan fiskal di bawah Kemenkeu.
Menurutnya, Presiden telah memberikan arahan spesifik agar kedua pilar ekonomi ini berjalan seiringan untuk mencapai target pertumbuhan nasional di tengah tantangan ekonomi global.
"Arahnya intinya adalah bahwa fiskal moneter harus berkoordinasi bersinergi dengan baik untuk mencapai target-target pertumbuhan dan tentu saja juga, pada saat ini kita harus menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk stabilitas dan fiskal. Mungkin intinya itu dari saya," jelasnya.
Mengawali masa jabatannya, Juda menyatakan rasa nyamannya bergabung dengan tim di Kementerian Keuangan.
Dia optimistis sinergi yang lebih erat akan membawa dampak positif bagi ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.
"Saya merasa nyaman lah untuk otoritas fiskal Kementerian Keuangan. Saya kira koordinasi KSSK adalah fiskal dan moneter, insya Allah akan semakin baik, semakin erat," pungkas Juda.
Kehadiran Juda Agung di Kementerian Keuangan diharapkan mampu menjembatani sinkronisasi kebijakan suku bunga dan pengelolaan anggaran negara secara lebih harmonis, demi menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas nilai tukar Rupiah.
(Taufik Fajar)