Timeline Demutualisasi dan Roadshow Internasional BEI Dinanti Pasar

Rohman Wibowo, Jurnalis
Selasa 17 Februari 2026 14:10 WIB
Presiden Prabowo Subianto memberi sinyal kuat bahwa pasar modal Indonesia akan ditempatkan sebagai instrumen strategis. (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)
Share :

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memberi sinyal kuat bahwa pasar modal Indonesia akan ditempatkan sebagai instrumen strategis pembangunan ekonomi, bukan sekadar pelengkap.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan bahwa saat Presiden menyinggung percepatan demutualisasi bursa, reformasi tata kelola, dan rencana roadshow internasional untuk memperkuat keterbukaan informasi, hal itu menunjukkan pemerintah menyadari bahwa kunci menarik arus modal global tidak hanya terletak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kepercayaan, transparansi, dan kredibilitas institusi pasar.

Namun dalam konteks pasar saham, Hendra mewanti-wanti agar pelaku pasar tidak berhenti pada retorika. Investor, terutama asing, akan menilai dari eksekusi. Demutualisasi bursa, misalnya, secara teori akan memperkuat independensi, meningkatkan profesionalisme, dan mendorong efisiensi karena struktur kepemilikan dan pengawasan menjadi lebih modern.

"Tapi pasar akan menunggu kejelasan timeline, regulasi turunan, serta bagaimana implementasinya benar-benar memperkuat governance, bukan sekadar perubahan struktur administratif. Reformasi tata kelola juga harus menyentuh isu konkret seperti transparansi transaksi, perlindungan investor minoritas, konsistensi penegakan hukum, dan kepastian regulasi," ujar Hendra, Selasa (17/2/2026).

Hendra menuturkan, soal rencana roadshow internasional yang melibatkan Danantara dan pemangku kepentingan juga menjadi poin penting. Di tengah kompetisi ketat antar emerging markets, Indonesia perlu aktif menjelaskan narasi ekonominya secara langsung kepada investor global.

Kata Hendra, roadshow ini bukan hanya soal promosi, tetapi tentang membangun kredibilitas fiskal, stabilitas makro, dan arah kebijakan jangka panjang. Jika komunikasi ini konsisten dan didukung data yang solid, risk premium Indonesia bisa turun, cost of fund lebih kompetitif, dan valuasi saham berpotensi mengalami rerating.

"Ke depan, saya melihat sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh konsistensi antara janji dan realisasi. Pasar akan memberikan apresiasi jika ada langkah konkret, misalnya percepatan reformasi regulasi, penguatan lembaga pengawas, dan perbaikan transparansi yang bisa diukur," tutur Hendra.

Sebaliknya, jika hanya berhenti pada wacana, dampaknya hanya bersifat jangka pendek dan mudah terkoreksi. Jadi secara fundamental, arah kebijakan yang disampaikan Presiden sudah berada di jalur yang benar.

"Tantangannya ada pada implementasi. Di pasar modal, kredibilitas dibangun bukan oleh pidato, tetapi oleh konsistensi kebijakan dan bukti nyata di lapangan," ujarnya.

Pemerintah kini tengah mengarahkan agar proses perubahan bentuk badan hukum atau demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaksanakan secara bertahap. Pemerintah mendorong skema demutualisasi melalui private placement sebelum beranjak ke tahap penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO).

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya