JAKARTA - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melalui PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) mengembangkan ekosistem logam tanah jarang.
Hal ini ditandai dengan penandatangan kesepakatan (MoU) dengan perusahaan asal Abu Dhabi, New Energy Metals Holdings Ltd (NEM) untuk menjajaki kerja sama strategis pengembangan mineral kritis, khususnya rare earth (logam tanah jarang/LTJ) yang menghubungkan sektor hulu di Republik Gabon dengan hilir di Indonesia.
Kerjasama ini mencakup evaluasi potensi pengembangan sumber daya niobium dan rare earth di proyek Maboumine di Gabon serta penguatan rantai nilai hilir di Indonesia, termasuk pemrosesan, pemurnian, produksi logam dan paduan, hingga manufaktur magnet permanen.
Pengembangan Rantai Mineral Strategis
Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, fase berikutnya industrialisasi Indonesia membutuhkan akses stabil terhadap bahan baku strategis sekaligus kemampuan mengubahnya menjadi produk hilir berdaya saing global.
"Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi ke depan," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (17/2/2026).
Kerja sama ini juga membentuk kelompok kerja bersama untuk mempercepat program teknis dan komersial, termasuk pertukaran data, lokakarya teknis, serta kajian investasi.
Selain itu, para pihak akan membuka negosiasi jalur cepat terkait potensi pembiayaan strategis, termasuk partisipasi ekuitas atau utang pada proyek tambang Maboumine.