Untuk memperkuat rantai pasok ini, MIND ID tengah membangun smelter aluminium baru dengan kapasitas 600.000 ton aluminium per tahun serta SGAR Fase II dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun. Inisiatif ini sejalan dengan Asta Cita Presiden RI dan termasuk dalam enam Proyek Prioritas Hilirisasi Fase I di Indonesia.
Melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) ini, MIND ID menargetkan peningkatan nilai tambah ekonomi hingga 70 kali lipat, dari bauksit menjadi alumina dan aluminium. Harga bauksit mentah yang sekitar USD 40 per metrik ton meningkat menjadi USD 400 setelah diolah menjadi alumina, dan melonjak hingga USD 2.800 ketika menjadi aluminium. Output ekonomi domestik diproyeksikan meningkat signifikan, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) naik hingga Rp 71,8 triliun per tahun, dan penerimaan negara meningkat menjadi Rp 6,6 triliun per tahun.
Ke depan, Indonesia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan aluminium domestik yang saat ini mencapai 1,2 juta ton per tahun dari produksi dalam negeri. Ketergantungan impor alumina dan aluminium pun akan menurun, meningkatkan cadangan devisa hingga sekitar 394%, dari Rp 11 triliun menjadi Rp 52 triliun per tahun. Hal ini memberi kepastian pasokan bahan baku bagi pelaku industri manufaktur dalam negeri.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menilai hadirnya proyek ini dapat meningkatkan kemampuan produksi aluminium dari dalam negeri yang semakin kuat, serta menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu mengurangi ketergantungan impor.
“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan negara pada sektor mineral, demi peradaban masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Maroef mengatakan aluminium adalah material strategis abad ke-21 yang memiliki peran penting dalam sektor transportasi, energi terbarukan, konstruksi, industri pertahanan, dan teknologi hijau.
“Tanpa adanya hilirisasi aluminium, Indonesia akan terus berada pada posisi sebagai pasar, bukan sebagai produsen. Melalui program hilirisasi ini, kita memastikan bauksit yang ditambang di dalam negeri, khususnya yang ada di provinsi Kalimantan Barat, diproses, kemudian dimurnikan, dan diubah menjadi produk bernilai tinggi,” jelas dia.