Hilirisasi Bauksit Jangan Lambat, Untung Besar Menanti Indonesia

Feby Novalius, Jurnalis
Minggu 22 Februari 2026 12:44 WIB
Hilirisasi bauksit harus lebih dari sekadar wacana. (Foto: Okezone.com/MIND ID)
Share :

JAKARTA – Hilirisasi bauksit harus lebih dari sekadar wacana. Proyek strategis yang dicanangkan Presiden ini memiliki dampak nyata bagi perekonomian Indonesia, mulai dari penciptaan nilai tambah industri hingga penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, proyek ini harus dijalankan cepat dan tidak boleh lambat.

Menurut pengamat energi Ferdinand Hutahaean, secara prinsip hilirisasi bauksit sangat baik. Namun, yang terpenting adalah proyek ini segera direalisasikan agar tidak hanya menjadi cerita belaka.

“Proyek ini harus dipercepat dan disegerakan karena tidak terlalu menarik bagi investor, mengingat kompetisi harga bauksit yang kurang menguntungkan. Isu ini harus diperhatikan,” ujar Ferdinand saat dihubungi Okezone.com, Minggu (22/2/2026).

Ferdinand menekankan, dalam hilirisasi bauksit, ekosistem industri juga harus diperhatikan. Pemerintah perlu memastikan hilirisasi berjalan hingga tahap industrialisasi, sehingga tercipta rantai nilai yang utuh dari pengolahan bahan mentah hingga produk jadi.

“Ini bisa menciptakan ekosistem yang utuh, dari hilirisasi hingga industrialisasi. Selama ini kelemahan kita adalah tidak membangun industrinya. Banyak sumber daya alam menjadi bahan baku utama produk yang digunakan masyarakat, tapi kita fokus ke materialnya, bukan industrinya,” jelasnya.

Oleh karena itu, pemerintah harus memastikan hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dengan mengolah bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau produk jadi, sehingga manfaat ekonominya dinikmati di dalam negeri.

“Nah, hilirisasi harus diperhatikan. Saya berharap tidak hanya menjual produk hilir, tapi juga menciptakan ekosistem dan industrinya,” tambah Ferdinand.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, menilai secara konsep kebijakan hilirisasi bauksit sudah tepat karena bertujuan meningkatkan nilai tambah dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Namun, menurutnya, implementasi kebijakan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar.

“Implementasinya masih terlalu berfokus pada pelarangan ekspor tanpa diikuti kesiapan infrastruktur, energi murah, serta kepastian regulasi bagi investor. Akibatnya, smelter tidak tumbuh secepat target, sementara produksi tambang tetap berjalan,” ujar Sofyano.

Ia menegaskan, kebijakan hilirisasi seharusnya dijalankan melalui pendekatan ekosistem yang komprehensif. Pemerintah perlu memastikan pasokan listrik yang kompetitif, pembangunan kawasan industri terintegrasi, insentif fiskal yang jelas, serta roadmap industri aluminium dari hulu hingga hilir.

Selain itu, kepastian perizinan dan dukungan logistik juga harus dijamin agar biaya produksi tetap kompetitif secara global.

“Tanpa sinkronisasi ini, hilirisasi berisiko hanya memindahkan bottleneck dari ekspor ke domestik, bukan menciptakan nilai tambah yang optimal bagi ekonomi nasional,” tegasnya.

 

Potensi Hilirisasi Bauksit

Indonesia memiliki cadangan bauksit besar, yakni sekitar 2,78 miliar ton dari total sumber daya 7,48 miliar ton. Saat ini, Indonesia memiliki rantai pasok hilirisasi bauksit–alumina–aluminium yang utuh dan terintegrasi, menjadi modal utama untuk memperkuat penciptaan nilai tambah sumber daya mineral serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

MIND ID melalui anggotanya, Inalum dan Antam, telah menyelesaikan pembangunan dan pengoperasian Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun. Proyek ini menjadi penghubung rantai pasok hilirisasi bauksit–alumina–aluminium yang sebelumnya terputus. Mineral bauksit yang selama ini diekspor mentah kini dapat diolah menjadi alumina, dan selanjutnya dimurnikan menjadi aluminium, bahan baku penting bagi berbagai sektor industri manufaktur.

Untuk memperkuat rantai pasok ini, MIND ID tengah membangun smelter aluminium baru dengan kapasitas 600.000 ton aluminium per tahun serta SGAR Fase II dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun. Inisiatif ini sejalan dengan Asta Cita Presiden RI dan termasuk dalam enam Proyek Prioritas Hilirisasi Fase I di Indonesia.

Melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) ini, MIND ID menargetkan peningkatan nilai tambah ekonomi hingga 70 kali lipat, dari bauksit menjadi alumina dan aluminium. Harga bauksit mentah yang sekitar USD 40 per metrik ton meningkat menjadi USD 400 setelah diolah menjadi alumina, dan melonjak hingga USD 2.800 ketika menjadi aluminium. Output ekonomi domestik diproyeksikan meningkat signifikan, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) naik hingga Rp 71,8 triliun per tahun, dan penerimaan negara meningkat menjadi Rp 6,6 triliun per tahun.

Ke depan, Indonesia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan aluminium domestik yang saat ini mencapai 1,2 juta ton per tahun dari produksi dalam negeri. Ketergantungan impor alumina dan aluminium pun akan menurun, meningkatkan cadangan devisa hingga sekitar 394%, dari Rp 11 triliun menjadi Rp 52 triliun per tahun. Hal ini memberi kepastian pasokan bahan baku bagi pelaku industri manufaktur dalam negeri.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menilai hadirnya proyek ini dapat meningkatkan kemampuan produksi aluminium dari dalam negeri yang semakin kuat, serta menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu mengurangi ketergantungan impor.

“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan negara pada sektor mineral, demi peradaban masa depan Indonesia,” pungkasnya.

Maroef mengatakan aluminium adalah material strategis abad ke-21 yang memiliki peran penting dalam sektor transportasi, energi terbarukan, konstruksi, industri pertahanan, dan teknologi hijau.

“Tanpa adanya hilirisasi aluminium, Indonesia akan terus berada pada posisi sebagai pasar, bukan sebagai produsen. Melalui program hilirisasi ini, kita memastikan bauksit yang ditambang di dalam negeri, khususnya yang ada di provinsi Kalimantan Barat, diproses, kemudian dimurnikan, dan diubah menjadi produk bernilai tinggi,” jelas dia.

 

Hilirisasi Bauksit Ditargetkan Selesai 2028

BPI Danantara Indonesia (Danantara Indonesia) menargetkan proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, selesai pada 2028.

“Kita harapkan ini akan selesai dalam jangka waktu dua tahun, sehingga pada 2028 seluruh infrastruktur energi sudah siap mendukung operasional,” ujar Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria.

Adapun Inalum dan Antam akan menggarap proyek ini melalui perusahaan joint venture mereka, PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI), dengan total investasi mencapai US$ 6,32 miliar atau setara dengan Rp 104,55 triliun.

Dampak Hilirisasi Bauksit

Proyek hilirisasi dapat menimbulkan multiplier effect bersifat jangka panjang yang diharapkan dapat meningkatkan output ekonomi domestik secara signifikan. Diperkirakan akan terdapat peningkatan Produk Domestik Bruto sekitar Rp 71,8 triliun per tahun.

Selain itu, proyek ini juga berpotensi memperkuat penerimaan negara sekitar Rp6,6 triliun per tahun dan berpotensi menyerap sekitar 65 ribu tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional dan sektor pendukung.

“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani.

(Feby Novalius)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya