Ini Model Pertanian Sirkular Terpadu untuk Ketahanan Pangan

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Senin 23 Februari 2026 19:15 WIB
Model pertanian sirkular terpadu untuk ketahanan pangan. (Foto: Okezone.com/PU)
Share :

JAKARTA - Model pertanian sirkular terpadu untuk ketahanan pangan. Pendekatan ini mengedepankan pemanfaatan lahan tidur, efisiensi sumber daya air, pengelolaan limbah, serta penguatan kelembagaan petani berbasis komunitas.

Hal ini dilakukan di Desa Kalongliud di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor yang pernah berada pada titik rapuh ketika bencana alam dan tekanan ekonomi datang hampir bersamaan. 

Pada 2020, banjir dan longsor merusak jaringan irigasi desa secara menyeluruh. Sekitar 150 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan, sementara puluhan petani dan ratusan buruh tani kehilangan stabilitas mata pencaharian mereka.

Kondisi tersebut diperberat oleh pandemi Covid-19 yang menekan aktivitas ekonomi masyarakat. Desa menghadapi risiko krisis ganda: ancaman terhadap ketahanan pangan dan tekanan ekonomi rumah tangga. 

Model Pertanian Sirkular

Seiring waktu, sebagian lahan pertanian berangsur menjadi lahan tidur, menciptakan tantangan serius bagi keberlanjutan desa.

Dari situasi tersebut, lahir sebuah inisiatif bernama Garitan Kalongliud. Program yang diinisiasi oleh Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor Antam bersama masyarakat desa ini dirancang bukan sekadar sebagai bantuan sosial, melainkan sebagai model pertanian sirkular terpadu. 

Sekretaris Perusahaan Antam Wisnu Danandi Haryanto menyampaikan bahwa Garitan Kalongliud mencerminkan pendekatan keberlanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial secara utuh.

“Program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi dan ketahanan sosial. Antam meyakini bahwa pendekatan berbasis ekosistem mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Wisnu dalam keterangannya, Jakarta, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, model pertanian sirkular yang dikembangkan di Kalongliud diharapkan dapat menjadi referensi bagi penguatan desa berbasis potensi lokal, sekaligus mendukung strategi keberlanjutan perusahaan dalam menjaga stabilitas sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.

Perjalanan Kalongliud menunjukkan bahwa pemulihan desa tidak selalu harus dimulai dari intervensi besar, melainkan dari perancangan sistem yang tepat. Dari lahan tidur yang kembali hidup, desa perlahan membangun ketahanan pangan dan ekonomi dengan pijakan yang lebih berkelanjutan.

Manfaatkan 35 Hektare Lahan Tidur

Perubahan mulai terlihat secara nyata di lapangan. Sebanyak 35 hektare lahan tidur berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif. Limbah lokal, termasuk kotoran ternak domba, diolah menjadi pupuk organik. Sekitar 25 ton limbah kotoran domba dimanfaatkan dalam sistem budidaya, sehingga mampu menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen.

Dari sisi pengelolaan sumber daya air, penerapan sistem irigasi tetes membawa dampak signifikan. Teknologi ini meningkatkan efisiensi konsumsi air hingga 60 persen sebuah capaian krusial bagi wilayah yang sebelumnya mengalami tekanan sumber daya air. Upaya pemulihan lingkungan juga diperkuat melalui penanaman 3.000 pohon di sempadan Sungai Cinyurug, yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon sebesar 21,5 ton CO₂eq per musim tanam.

Dampak Ekonomi

Dampak ekonomi program mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, sementara biaya pupuk menurun sekitar 50 persen. Pada periode budidaya cabai 2024–2025, kegiatan usaha mencatatkan keuntungan sebesar Rp246.258.000.

Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34, yang berarti setiap satu rupiah investasi menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah.

 

Transformasi di Kalongliud tidak hanya terjadi pada aspek produksi, tetapi juga pada struktur sosial ekonomi desa. Sebelum program berjalan, petani cenderung bekerja secara individual dan bergantung pada tengkulak. Biaya produksi relatif tinggi, sementara serangan hama keong kerap merusak lahan budidaya.

Kini, petani terorganisir dalam empat kelompok tani resmi yang dibentuk melalui Surat Keputusan Desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar, memperkuat akses distribusi dan posisi tawar petani. 

Inovasi lokal pun berkembang, termasuk pemanfaatan keong yang sebelumnya menjadi hama sebagai bahan baku pupuk organik cair.

Program Garitan Kalongliud juga menjangkau kelompok masyarakat rentan. Tercatat 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung. 

Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan termasuk buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin dilibatkan secara aktif dalam sistem ekonomi desa. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program ini mencapai 90,82 persen.

Keberhasilan program tidak terlepas dari peran local hero. Sosok Kang Wahyu dikenal sebagai penggerak utama di tingkat desa, yang bersama masyarakat mendorong adopsi inovasi pertanian dan penguatan kolaborasi komunitas.

Rumah Belajar Garitan yang dibangun di desa tersebut kini berkembang sebagai pusat pembelajaran, telah dikunjungi lebih dari 696 pengunjung lokal dan nasional, serta menjadi model yang mulai direplikasi di desa lain.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya