Jepang lebih rentan lagi jika Selat Hormuz ditutup. Hal ini karena negara tersebut sangat bergantung dengan energi dari negara-negara Teluk karena keterbatasan produksi di dalamnya. Jepang mengimpor lebih dari 90 persen minyaknya melalui Selat Hormuz.
Dikutip dari The Maichi, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan bahwa negaranya hanya memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 254 hari ke depan.
Korea Selatan juga bergantung pada energi dari negara-negara Teluk karena keterbatasan produksi di dalam negeri.
Korea Selatan memperoleh sekitar 70 persen minyak mentahnya dari wilayah tersebut.
Negara itu kini hanya memiliki cadangan minyak yang cukup untuk konsumsi lebih dari 219 hari.
Taiwan Ketergantungan terhadap energi impor menghadirkan kekhawatiran global lainnya.
Negara ini mengimpor lebih dari 96 persen energinya, dengan sebagian besar minyak dan gasnya tiba melalui Selat Hormuz.
Di tengah konflik di Timur Tengah, Taiwan hanya memiliki cadangan minyak sekitar 120 hari, tetapi hanya sekitar 11 hari pasokan gas alamnya. Gangguan yang berkepanjangan dapat memengaruhi produksi semikonduktor.
Para ahli memperingatkan bahwa Thailand akan menghadapi risiko yang signifikan karena negara itu bergantung pada impor minyak.
Dilansir dari Sunday Guardian Impor minyak bersih Thailand mencapai 4,7 persen dari PDB-nya.
India baru-baru ini,mengubah strategi pengadaan minyaknya sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan dengan AS.
Kesepakatan tersebut mencakup pengurangan ketergantungan pada minyak Rusia dan peningkatan impor dari wilayah lain, terutama Teluk Persia.
Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih cukup hanya untuk 25 hari.
"Masih cukup, 25 hari," kata Bahlil.
(Taufik Fajar)