4 Fakta BBM Subsidi Bakal Naik Jika Minyak Dunia Tembus USD 92 per Barel

Feby Novalius, Jurnalis
Minggu 08 Maret 2026 09:01 WIB
Pemerintah mencari cara agar kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak terjadi di tengah tingginya harga minyak dunia. (Foto: Okezone.com/Pertamina)
Share :

JAKARTA — Pemerintah mencari cara agar kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak terjadi di tengah tingginya harga minyak dunia yang dapat memperlebar defisit APBN 2026. Opsi kenaikan harga BBM subsidi bisa terjadi bila harga minyak naik menjadi USD 92 per barel.

Oleh karena itu, pemerintah saat ini sedang berupaya keras agar defisit anggaran tetap terjaga di bawah ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Berikut Okezone.com merangkum fakta-fakta menarik terkait adanya opsi kenaikan harga BBM subsidi, Minggu (8/3/2026):

1. Harga BBM Berpotensi Naik

Pemerintah mulai mempertimbangkan opsi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebagai langkah antisipasi terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi global yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah dikhawatirkan akan memperlebar defisit APBN melampaui batas aman yang ditetapkan undang-undang.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyusun simulasi dampak fluktuasi harga minyak terhadap postur fiskal nasional. Jika harga minyak mentah mencapai angka rata-rata USD 92 per barel, tekanan terhadap defisit anggaran akan menjadi sangat besar.

“Kalau harga minyak naik ke 92 dolar AS per barel, apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa, defisit kita naik ke 3,6 sampai 3,7 persen dari PDB,” kata Purbaya.

2. Strategi Purbaya

Kementerian Keuangan menyiapkan skenario penundaan sejumlah proyek atau pengadaan barang yang dianggap tidak mendesak. Belanja negara akan difokuskan hanya pada program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

Beberapa poin mitigasi fiskal pemerintah antara lain penundaan proyek fisik yang belum masuk tahap krusial, menggeser dana pengadaan barang ke subsidi energi, dan memastikan bantuan sosial tetap berjalan meskipun terjadi tekanan fiskal.

3. Penentu Harga BBM Naik atau Tidak

Menurut Purbaya, pemerintah saat ini berupaya keras agar defisit anggaran tetap terjaga di bawah ambang batas 3 persen dari PDB.

Meski realokasi belanja menjadi prioritas awal, Purbaya mengakui bahwa kenaikan harga BBM tetap menjadi opsi terakhir jika ruang fiskal sudah sangat terbatas.

“Kalau memang anggarannya tidak kuat sekali, tidak ada jalan lain, ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM kalau memang,” tutur Purbaya.

 

4. Pangkas Anggaran MBG

Pemerintah telah melakukan simulasi mendalam terkait dampak kenaikan harga minyak mentah global terhadap postur APBN.

Menurut Purbaya, guna mencegah defisit menembus batas aman, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk melakukan penghematan pada pos belanja non-prioritas di berbagai program besar.

"Kita sudah exercise kalau harga minyak USD 92 selama setahun rata-rata, maka defisitnya jadi 3,6 persen lebih tadi," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

"Kalau itu, kita akan melakukan langkah-langkah supaya itu tidak terjadi. Bisa penghematan di mana? Misalnya penghematan di MBG," imbuhnya.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya