JAKARTA — Harga minyak dunia melonjak sekitar 7% pada perdagangan Senin dan ditutup di level tertinggi sejak 2022. Kenaikan tersebut dipicu oleh pemangkasan pasokan minyak oleh Arab Saudi dan anggota OPEC di tengah konflik Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Namun, tak lama setelah penutupan pasar, harga minyak berbalik melemah menyusul kabar percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Harga turun lebih dari 5% setelah penutupan perdagangan, setelah pemerintahan Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi lebih lanjut terhadap minyak Rusia untuk membantu mengendalikan harga energi global.
Sebelumnya, Putin mengatakan Moskow siap memasok minyak dan gas alam ke Eropa. Demikian dilansir dari Reuters, Selasa (10/3/2026).
Secara terpisah, Trump mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa perang melawan Iran berjalan sangat lancar dan bahwa Washington jauh lebih maju dari perkiraan awal selama empat hingga lima minggu.
Selama sesi perdagangan Senin, harga sempat melonjak hingga 29%. Pada penutupan, harga Brent berjangka naik USD6,27 atau 6,8% menjadi USD98,96 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD3,87 atau 4,3% menjadi USD94,77 per barel.
Itu merupakan harga penutupan tertinggi untuk Brent dan WTI sejak Agustus 2022. Bahkan setelah harga turun pasca-penutupan, kedua patokan tersebut masih naik lebih dari 35% sejak perang Iran dimulai.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait harga minyak dunia yang melonjak hingga USD100 per barel atau melampaui asumsi APBN di angka USD70 per barel.