Dari sisi global, pasar juga mencermati data ekonomi China di mana inflasi konsumen tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari 2026, laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Namun, inflasi produsen masih mengalami kontraksi, menciptakan ketidakpastian mengenai keberlanjutan tren permintaan pasca-liburan.
Sementara itu, dari dalam negeri, investor menaruh perhatian serius pada ketahanan fiskal Indonesia. Harga minyak dunia yang menyentuh USD 92 per barel telah melampaui asumsi makro APBN 2026 yang dipatok di level USD 70 per barel.
"Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun. Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui USD100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," ujarnya.
Ketegangan antara harga energi global dan disiplin fiskal domestik ini menjadi sentimen krusial yang menentukan arah nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
(Dani Jumadil Akhir)