JAKARTA - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menargetkan pendapatan konsolidasi mencapai USD1,6 miliar atau setara Rp26,98 triliun (kurs Rp16.864 per dolar AS) usai melakukan transformasi kinerja atau fase reborn. Target pendapatan ini tertuang dalam RKAP 2026.
"Target ini bukan sekadar angka finansial, melainkan transformasi mentalitas menuju reborn state yang mengedepankan ketangkasan dan kolaborasi lintas entitas antara holding dan anak perusahaan," kata Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Strategi transformasi KRAS Reborn merupakan langkah visioner perusahaan untuk mengonversi dinamika volatilitas global dan disrupsi teknologi menjadi peluang pertumbuhan yang berkelanjutan. Strategi ini menandai fase krusial bagi perusahaan untuk beranjak dari sekadar bertahan menuju ambisi besar menjadi pemimpin industri baja yang tangguh di kancah global.
Akbar Djohan menegaskan bahwa momentum ini merupakan titik balik krusial bagi Perseroan. "Kita harus menyadari bahwa Krakatau Steel tidak pernah kehilangan kekuatannya, hari ini kita sedang membangkitkan kesadaran kolektif atas kapabilitas besar yang selama ini terpendam," katanya.
Melalui KRAS Reborn, lanjut dia mengatakan, secara resmi meninggalkan pola pikir bertahan dan mulai melangkah dengan mentalitas juara yang berlandaskan pada kolaborasi tanpa batas serta standar kualitas kelas dunia," ujarnya.
Transformasi Krakatau Steel
Strategi KRAS Reborn memposisikan energi organisasi dan ketangguhan mental talenta sebagai fondasi utama. Melalui sinergi Resilient Mindset dan Execution Excellence, setiap insan perusahaan dipacu untuk menghasilkan kinerja optimal di tengah dinamika industri. Transformasi ini merevolusi SDM menjadi Business-Driven People yang didukung penuh oleh kelincahan organisasi (Organizational Agility).
Langkah nyata percepatan transformasi telah dibahas pada Februari 2026 di Gedung Pusdiklat Cilegon. Direktur SDM Krakatau Steel Suryantoro Waluyo memaparkan bahwa esensi dari KRAS Reborn adalah sebuah intervensi energi organisasi yang menyeluruh.
Fokus utamanya bukan sekadar peningkatan kompetensi teknis, melainkan penyelarasan aspek budaya kerja, ketangguhan mental, dan optimalisasi kinerja berbasis target yang terukur untuk memastikan setiap individu di dalam perusahaan bergerak sebagai mitra bisnis strategis yang berkontribusi langsung pada pendapatan perusahaan.
(Dani Jumadil Akhir)