Harga Bitcoin Turun Lagi Jadi Rp1,1 Miliar Usai Keputusan FOMC, Investor Harus Apa?

Feby Novalius, Jurnalis
Sabtu 21 Maret 2026 09:57 WIB
Bitcoin sempat menguat mendekati USD76.000. (Foto :Okezone.com/Freepik)
Share :

JAKARTA - Harga Bitcoin turun ke kisaran USD70.000 atau setara Rp1,1 miliar setelah hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Hal ini menunjukkan sinyal kebijakan moneter yang masih cenderung ketat.

Pergerakan ini dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, termasuk revisi kenaikan  inflasi Amerika Serikat menjadi sekitar 2,7% serta suku bunga yang bertahan di kisaran 3,50%-3,75%.

Bitcoin sempat menguat mendekati USD76.000 pada Selasa (17/3) didorong arus masuk dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar USD199,37 juta hingga sesi ketujuh berturut-turut, sementara total arus masuk selama tujuh hari mencapai USD1,16 miliar. 

Hal ini menunjukkan minat investor besar yang masih terjaga meski pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, para investor melakukan penyesuaian yang mempengaruhi pergerakan harga, tercermin dari koreksi sekitar 7–8%.

Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan bahwa pergerakan pasar saat ini dipengaruhi oleh hasil FOMC yang membentuk ekspektasi baru investor terhadap kebijakan moneter.

“Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish," katanya di Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Dia menambahkan, pasar pun menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas. 

"Namun, ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap dinamika ekonomi global yang terus berkembang," ujarnya.

Dalam keputusan terbarunya, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dan menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi sekitar 2,7%. 

Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa penurunan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi.

Kondisi ini membuat peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih terbatas, sehingga mempengaruhi minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya