Di sisi lain, kenaikan harga energi juga turut memberi tekanan tambahan. Harga minyak mentah diproyeksikan bergerak di rentang 93.300 hingga 107.100, sementara Brent crude oil berpotensi menguat lebih tinggi di kisaran 110.000 hingga 116.000. Lonjakan harga energi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
Meski mengalami koreksi, Ibrahim menegaskan bahwa emas masih relevan sebagai aset lindung nilai (safe haven). Ia menilai pelemahan saat ini merupakan koreksi wajar di tengah dinamika pasar global dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.
Di dalam negeri, lanjutnya, potensi pelemahan rupiah justru dapat menahan penurunan harga logam mulia lebih dalam. Dengan demikian, meskipun harga emas dunia turun, harga logam mulia berpeluang bergerak stabil dan tetap berada di kisaran tinggi, mendekati level Rp3 juta per gram dalam waktu dekat.
(Feby Novalius)