JAKARTA – Tunjangan Hari Raya (THR) telah cair menjelang Hari Raya Idulfitri. Namun, di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil akibat konflik geopolitik dan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), masyarakat diimbau lebih bijak dalam mengelola keuangan.
Pasalnya, kenaikan harga minyak dunia berpotensi berdampak pada harga kebutuhan pokok dan BBM di dalam negeri setelah Lebaran. Sementara itu, gaji berikutnya masih harus menunggu hingga akhir bulan, sehingga penting memastikan THR tidak habis dalam waktu singkat.
Perilaku konsumtif yang kerap meningkat saat Ramadan dan Lebaran perlu dihindari agar kondisi keuangan tetap stabil. Perencanaan yang matang menjadi kunci agar THR dapat dimanfaatkan secara optimal.
Sebagian besar THR, sekitar 50 persen, sebaiknya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok selama Lebaran, termasuk biaya makanan, persiapan hari raya, dan kebutuhan mudik.
Sekitar 30 persen THR dapat dialokasikan untuk tabungan, dana darurat, maupun investasi. Langkah ini penting untuk menjaga ketahanan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi.
Sebanyak 10 persen THR dapat digunakan untuk membayar zakat fitrah serta disalurkan dalam bentuk infak dan sedekah kepada yang membutuhkan.
Sisa 10 persen lainnya dapat dimanfaatkan untuk melunasi utang atau cicilan agar tidak menjadi beban di kemudian hari.
Dengan pembagian tersebut, masyarakat diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumsi, kewajiban, dan perencanaan masa depan. Terlebih, potensi kenaikan harga BBM dan kebutuhan pasca-Lebaran perlu diantisipasi sejak dini.
Pengelolaan THR yang bijak tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga menjaga kondisi keuangan tetap aman hingga periode gajian berikutnya.
(Feby Novalius)