Skenario Terburuk Rupiah Anjlok ke Rp20.000 per Dolar AS, Waspada Krisis Imbas Perang AS-Iran

Tangguh Yudha, Jurnalis
Selasa 24 Maret 2026 11:10 WIB
Skenario Terburuk Rupiah Anjlok ke Rp20.000 per Dolar AS, Waspada Krisis Imbas Perang AS-Iran (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai berada dalam kondisi rentan dan berpotensi melemah hingga menembus Rp20.400 per dolar AS dalam beberapa bulan ke depan. Pelemahan Rupiah tersebut bukan sekadar kemungkinan spekulatif, melainkan didasarkan pada pola historis tekanan terhadap Rupiah dalam satu dekade terakhir.

Managing Director Political Economy and Policy Studies Anthony Budiawan mengatakan narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat karena ditopang cadangan devisa besar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya. Menurutnya, sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar Indonesia masih rapuh serta sangat sensitif terhadap guncangan eksternal, terutama dinamika geopolitik global.

"Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia," kata Anthony dalam keterangannya, Selasa (24/3/2026).

Dia menilai, cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Anthony mengatakan, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi.

Dirinya mencontohkan, sepanjang periode 2014 hingga 2025 terdapat tiga episode tekanan besar terhadap rupiah. Episode pertama terjadi pada September 2014 hingga September 2015, ketika cadangan devisa turun USD9,44 miliar dan rupiah terdepresiasi sekitar 20 persen dari Rp12.185 menjadi Rp14.650 per dolar AS.

Untuk menahan tekanan saat itu, pemerintah menerbitkan obligasi internasional melalui global bond dan Samurai bond senilai sekitar USD6,85 miliar.

Tekanan kedua terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2018. Dalam periode itu cadangan devisa turun USD17,13 miliar, sementara Rupiah melemah 13,5 persen dari Rp13.388 menjadi Rp15.202 per dolar AS. Pemerintah kembali mengandalkan penerbitan utang luar negeri dengan total sekitar 11,4 miliar dolar AS untuk menjaga stabilitas pasar.

Menurut Anthony, tekanan paling tajam terjadi saat awal pandemi COVID-19 pada 2020. Dalam satu bulan, cadangan devisa turun sekitar USD10,7 miliar dan rupiah melemah hampir 20 persen dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS.

"Tiga episode ini menyampaikan pesan yang sangat jelas, cadangan devisa yang besar tidak menjamin stabilitas Rupiah. Yang menentukan rupiah adalah apakah aliran dana eksternal (utang) tetap masuk atau berhenti. Dengan kata lain, stabilitas rupiah tergantung dari apakah Indonesia masih bisa berutang terus," ujarnya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya