JAKARTA - Nilai tukar rupiah diprediksi akan terus mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini Senin (30/3/2026).
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperingatkan bahwa mata uang Garuda berpotensi menyentuh level psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan akibat penguatan indeks dolar.
“Itu (rupiah) kemungkinan besar akan menuju level Rp17.100. Ingat Rp17.100,” tegas Ibrahim dalam analisisnya.
Ibrahim juga memproyeksikan indeks dolar akan bergerak kuat di rentang 99,300 hingga 101,600, yang secara langsung akan memicu pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Faktor utama yang mendorong penguatan dolar dan pelemahan rupiah adalah memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama terkait ancaman pemblokiran Selat Hormuz. Eskalasi militer yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah menyebabkan gangguan serius pada produksi minyak dunia.
Menurut Ibrahim, produksi minyak di Timur Tengah berkurang hingga 10 juta barel per hari. Kondisi ini diperparah dengan serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia yang memicu kelangkaan energi global.