JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) merespons imbauan penerapan kerja dari rumah (work from home/WFH) sebagai upaya penghematan bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik di Timur Tengah. Pengusaha menilai kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan produktivitas serta kemampuan produksi agar tetap seimbang dengan permintaan dan menjaga kelancaran rantai pasok.
"Kami memang sedang mempertimbangkan untuk melaksanakan WFH. Yang lebih penting, WFH ini bisa memberikan sense of crisis kepada seluruh anggota Apindo, bahwa kita harus bersiap menghadapi kelangkaan energi. Namun, di sisi lain kami juga harus tetap mempertahankan produktivitas agar tidak menurun," kata Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, Jumat (3/4/2026).
Bob mengatakan, daya produksi harus tetap dijaga meski sejumlah perusahaan menerapkan kebijakan WFH. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Menurutnya, tekanan ekonomi akan dirasakan masyarakat apabila dunia usaha mengalami kesulitan produksi akibat penerapan WFH.
"Jika kelangkaan energi diikuti dengan kelangkaan barang, hal itu dapat memicu inflasi yang memperburuk kondisi ekonomi. Karena itu, pelaksanaan WFH harus dilakukan secara hati-hati. Kami tetap harus menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat," ujar Bob.
Ia juga mengingatkan bahwa sektor industri yang berkaitan langsung dengan produksi barang dan jasa akan menghadapi kendala dalam menerapkan WFH. Oleh karena itu, kebijakan ini perlu diterapkan secara selektif.