JAKARTA — Indonesia mempercepat transisi energi dengan menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) dalam beberapa tahun ke depan, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah ini turut didorong melalui berbagai forum energi, termasuk Solartech Indonesia 2026 yang digelar di Jakarta.
Sekretaris Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian ESDM, Sahid Junaidi, menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyusun Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) terbaru yang selaras dengan target Net Zero Emission (NZE) 2060. Ia menegaskan energi surya memiliki potensi terbesar dibandingkan sumber energi baru terbarukan lainnya, termasuk melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya atap (rooftop).
“Pemerintah mendorong percepatan pemanfaatan energi surya. Presiden menargetkan pembangunan PLTS hingga 100 gigawatt dalam 2–3 tahun ke depan (2026–2028) guna mempercepat transisi energi dan memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Sahid, Jumat (24/4/2026).
Sementara itu, Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menyatakan partisipasi perusahaannya dalam forum tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung percepatan transisi energi nasional.
“Partisipasi PLN Indonesia Power dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan energi bersih, termasuk melalui pembangunan infrastruktur dan pembangkit berbasis energi surya,” ujarnya.
Dalam ajang tersebut, sejumlah inovasi terkait transisi energi turut ditampilkan, termasuk pengembangan energi panas bumi dan tenaga surya.
(Feby Novalius)