Dari sisi mata uang, indeks dolar diproyeksikan bergerak di rentang 96,6 hingga 102,5. Fokus pasar tertuju pada pergantian Gubernur Bank Sentral AS dari Jerome Powell ke Kevin Warsh di akhir bulan ini.
Ibrahim menilai sosok Kevin Warsh kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi jika harga minyak terus memicu inflasi, meskipun ada tekanan politik dari Gedung Putih.
Ibrahim juga mencatat adanya perombakan di jajaran militer AS oleh Trump sebagai persiapan jika perundingan gencatan senjata dengan Iran gagal.
“Trump sendiri menginginkan, kalau seandainya gagal dalam perundingan gencatan senjata, Amerika akan melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Iran yang ada di Selat Hormuz. Nah ini berarti genderang perang yang akan dilakukan oleh Amerika dan ini akan membuat ketegangan tersendiri,” tambah Ibrahim.
Di tengah ancaman perang yang panjang, negara-negara anggota BRICS dilaporkan terus memborong emas sebagai cadangan devisa mereka. Hal ini menjadi faktor fundamental yang menjaga harga emas tetap kokoh meski dolar berfluktuasi.
“Negara-negara anggota BRICS tahu bahwa kemungkinan besar perang ini akan panjang. Sehingga pada saat harga logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan terbaik bagi negara-negara Bank Sentral anggota BRICS untuk memupuk kekayaannya dengan membeli logam mulia,” tutur Ibrahim.
(Dani Jumadil Akhir)