JAKARTA - Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan OPEC+ mulai 1 Mei 2026. Pengumuman UEA keluar dari OPEC menjadi pukulan telak bagi anggota OPEC lainnya sebagai produsen minyak terbesar di dunia, khususnya di Timur Tengah.
Pengumuman mengejutkan ini disampaikan pada Selasa waktu setempat, setelah UEA menjadi target serangan rudal dan drone selama berminggu-minggu oleh sesama anggota OPEC, Iran. Serangan Teheran terhadap pelayaran di Selat Hormuz juga sangat membatasi kemampuan UEA untuk mengekspor minyak, mengancam fondasi ekonominya.
UEA telah memainkan peran berpengaruh dalam keputusan OPEC selama hampir enam dekade. Pada bulan Februari, UEA merupakan produsen minyak terbesar ketiga di grup tersebut setelah Arab Saudi dan Irak. Keanggotaan UEA di OPEC berawal dari Emirat Abu Dhabi pada tahun 1967, tujuh tahun setelah organisasi tersebut didirikan. Demikian dilansir CNBC, Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Alasan UEA keluar dari OPEC demi kepentingan nasionalnya setelah melakukan tinjauan komprehensif terhadap kebijakan dan kapasitas produksinya, kata Kementerian Energi UEA dalam sebuah pernyataan tertulis.
Menteri Energi Suhail Al Mazrouei mengatakan, UEA mengambil keputusan untuk meninggalkan OPEC di waktu yang tepat karena tidak mengganggu produsen lain dalam kelompok tersebut.
"Keluarnya kami saat ini adalah waktu yang tepat, karena akan berdampak minimal pada harga dan akan berdampak minimal pada teman-teman kami di OPEC dan OPEC+," kata Al Mazrouei.