TBS Energi (TOBA) Raup Pendapatan Rp1,4 Triliun di Kuartal I-2026, Ini Penopangnya

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Kamis 30 April 2026 15:01 WIB
TBS Energi (TOBA) Raup Pendapatan Rp1,4 Triliun di Kuartal I-2026, Ini Penopangnya (Foto: Dokumentasi TOBA)
Share :

JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) meraih pendapatan sebesar USD82,29 juta atau sekitar Rp1,43 triliun (kurs Rp17.324 per USD). Angka ini naik sekira 20,5% secara year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD71,52 juta.

TBS juga melaporkan laba kotor konsolidasi naik sebesar 46,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Efisiensi operasional yang semakin membaik terlihat dari posisi arus kas operasional yang sebelumnya negatif USD2,9 juta pada tahun 2025 menjadi positif USD9,9 juta pada tahun 2026. 

Secara keseluruhan, total kerugian periode berjalan berhasil berkurang lebih dari 83% secara tahunan dari USD58,9 juta ke USD9,5 juta karena tidak berulangnya kerugian dari divestasi entitas PLTU tahun lalu. 

"Hasil yang kami capai di kuartal pertama ini merupakan validasi atas ketepatan arah transformasi perusahaan," kata Direktur TBS Juli Oktarina di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Fokus TBS Energi saat ini adalah memperkuat stabilitas operasional pada lini bisnis pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik setelah fase transformasi portofolio ke sektor bisnis hijau melalui akuisisi dan divestasi pada tahun 2025.

"Langkah besar akuisisi dan divestasi di tahun 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan Perseroan. Fase transisi ini akan berdampak sementara pada laba kami, tapi transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TBS menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi, yang siap memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham," ujarnya.

Lini bisnis pengelolaan limbah kini menjadi kontributor utama perusahaan dengan menyumbang 60% dari total pendapatan konsolidasi dan 93% dari total EBITDA didorong oleh pertumbuhan pendapatan segmen yang melonjak signifikan sebesar 447,69%, dari USD9,4 juta menjadi USD51,9 juta. 

Bisnis pengelolaan limbah menunjukkan resiliensi di segala situasi ekonomi. Terlepas dari fluktuasi pasar maupun ketidakpastian global, segmen ini terbukti mampu memberikan arus pendapatan yang stabil dan berulang, dengan tingkat profitabilitas yang sangat tinggi. 

 

Pada segmen energi terbarukan, PLTM (Mini Hydro) berkapasitas 6 MW telah beroperasi secara penuh dan memberikan kontribusi pendapatan sebesar USD3,2 juta. Sementara itu, proyek PLTS Terapung berkapasitas 46 MWp telah mencapai progres pembangunan dengan target penyelesaian operasional pada kuartal keempat tahun 2026. 

Segmen kendaraan listrik melalui Electrum juga menunjukkan tren kenaikan yang kuat, di mana pendapatan dari penjualan dan penyewaan tumbuh hampir 2,5 kali lipat sebesar 137,82% dari USD1,3 juta menjadi USD3,2 juta. Pertumbuhan nilai ini didukung oleh ekspansi operasional yang signifikan, terlihat dari jumlah unit motor listrik yang beroperasi meningkat dari 5.100 unit pada Maret 2025 menjadi 9.082 unit pada Maret 2026. 

Untuk melayani kebutuhan pengguna yang terus berkembang, Electrum juga telah memperkuat infrastruktur pendukung dengan menyediakan 426 unit stasiun pertukaran baterai (Battery Swapping Stations) dan mengalami peningkatan 37% dibandingkan dengan 310 unit pada tahun lalu. 

Di segmen batu bara, TBS  memprioritaskan efisiensi dengan menekan biaya operasional tunai sebesar 5,8% menjadi USD42,5 per ton. Langkah optimasi ini terbukti efektif menjaga resiliensi bisnis di tengah fluktuasi harga pasar, sehingga margin laba kotor pertambangan tetap terjaga secara stabil di angka 15,8% pada kuartal pertama ini. Juli lebih jauh menegaskan, 

“Capaian pada kuartal I 2026 ini merupakan bagian dari peta jalan TBS untuk menjadi perusahaan yang lebih berkelanjutan. Dengan posisi kas sebesar USD103,3 juta dan manajemen modal kerja yang disiplin, Perseroan memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan dan target netralitas karbon pada tahun 2030,” tutupnya.  

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya