JAKARTA - Industri migas Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural, mulai dari ketergantungan impor peralatan strategis, keterbatasan penguasaan teknologi, hingga lemahnya basis industri domestik yang menghambat peningkatan daya saing di rantai nilai global.
Menurut Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI), Gede Pramona, penguatan industri penunjang migas nasional, khususnya manufaktur pipa seamless yang memiliki komitmen terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), menjadi salah satu kebutuhan penting untuk meningkatkan kemandirian industri.
Oleh karena itu, kata Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas, Hendrik Kawilarang Luntungan, perlunya perubahan arah industri migas nasional agar tidak terus bergantung pada impor.
“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal,” kata Hendrik, Senin (4/5/2026).
Perusahaan tersebut menyampaikan bahwa produk industrinya telah digunakan dalam sejumlah proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan standar API 5CT dan API 5L, sebagai bagian dari dukungan terhadap kebutuhan industri migas nasional.
IAFMI bersama Komunitas Migas Indonesia (KMI) mendorong sejumlah arah transformasi industri migas nasional, antara lain penurunan impor peralatan migas, efisiensi dan optimalisasi cost recovery, peningkatan TKDN berbasis kualitas, lahirnya national champion industri migas, serta penguatan posisi Indonesia sebagai basis industri migas di Asia Tenggara.
Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, di antaranya ketergantungan pada impor komponen kritikal, keterbatasan penguasaan teknologi dan riset dan pengembangan (R&D), regulasi yang dinilai belum kompetitif, kesenjangan kualitas sumber daya manusia, serta lemahnya daya saing industri nasional di pasar global.
Ketua Komunitas Migas Indonesia, S. Herry Putranto, mengatakan penguatan industri nasional membutuhkan dukungan regulasi yang berpihak serta investasi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.
“Artas Energi memiliki sumber daya dan pasar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun industri sendiri, dengan regulasi yang berpihak kepada kepentingan industri nasional serta kesiapan SDM yang mampu bersaing secara global,” kata Herry.
IAFMI menilai penguatan industri migas nasional membutuhkan percepatan reformasi regulasi, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta pengembangan ekosistem industri yang lebih mandiri dan berdaya saing.
(Feby Novalius)