JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan situasi dan kondisi energi global saat ini tengah tidak menentu. Terhambatnya rantai pasok akan berdampak jauh terhadap perekonomian sebuah negara.
Bahlil mengatakan, diversifikasi energi menjadi salah satu kunci menghadapi krisis energi yang tengah melanda dunia saat ini. Pemerintah menyiapkan 3 agenda utama untuk mempercepat diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar.
"Kondisi energi global saat ini sedang tidak menentu. Kita harus lakukan diversifikasi energi, agar ketika satu sumber energi sulit didapat, kita masih punya sumber energi yang lain. Beruntung Indonesia memiliki banyak sumber energi alternatif selain fosil, yang juga berperan strategis pada upaya ketahanan energi," ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Sabtu (9/5/2025).
Ia mengatakan, Indonesia telah memanfaatkan berbagai sumber energi alternatif sebagai upaya mencapai ketahanan dan kemandirian energi. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt, mandatori biodiesel yang akan segera ditingkatkan menjadi 50%, hingga peningkatan penggunaan kendaraan listrik, menjadi langkah-langkah utama prioritas Pemerintah dalam melakukan diversifikasi energi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa negara-negara ASEAN harus siap menghadapi gangguan pada pasokan energi yang dapat terjadi berkepanjangan. Menurutnya, ketahanan energi kawasan tidak dapat dibangun secara reaktif, tetapi harus dipersiapkan secara proaktif melalui pendekatan yang jelas dan berorientasi ke depan.